Karena yang tertulis akan bernilai di masa depan

24 Oktober 2018

Tabloid Bola Tutup dan Kenangannya yang Membekas


Tabloid Bola (BOLA) lahir cukup jauh sebelum saya lahir. Saya hanya bisa menyimak cerita bahwa Bola awalnya adalah sisipan Harian Kompas. Sayangnya, meski BOLA sudah beredar sangat lama, saya baru "sadar" membaca BOLA di tahun 2009an atau saat harganya sudah Rp 5000. Saya cukup iri dengan kisah orang yang membaca BOLA sejak kecil, karena orang tuanya/saudaranya berlangganan bola. Masa kecil saya hanya diasup Harian Kompas yang dibawa Ayah saya dari tempat kerjanya. Tentu saya belum menegerti membaca Kompas. Paling untuk bahan kliping tugas sekolah. Namun jika ditanya kapan mengenal brand BOLA, saya tahu saat masa piala dunia 2002. Saat itu, entah darimana asalnya, di rumah saya terdapat majalah yang mengulas hasil  Piala Dunia 1998 terbitan BOLA.

Isi halamannya udah lepas-lepas entah kemana dan ada gambar yang digunting :( 

Ada bonusnya, stiker Si Gundul yang legend banget. Untung masih ada sisanya

Di satu sisi BOLA bukan media cetak olahraga pertama yang membuat saya tertarik mengikuti berita sepak bola. Namun Bola lah yang pertama kali membuat saya tertarik mengirim tulisan ke media cetak. Banyak rubrik yang menjadi sasaran mulai dari Olepedia, Ola-Ole, Suara tifosi, hingga yang paling prestige, Oposan. Saya amati dan pelajari tulisan-tulisan pembaca yang dimuat di berbagai rubrik tersebut. Saya juga mendapat ide setelah membaca artikel BOLA. Disitu saya mengalami proses belajar. Saya tidak mengincar hadiahnya. Tulisan saya berhasil dimuat saja sudah senang

Baca juga: Tulisanku dimuat Untuk Pertama Kalinya Di Media Cetak

Saya ingat betapa deg-degannya saya ketika sampai di kios koran dan mengecek apakah tulisan saya dimuat atau nggak.  Jika tulisan saya dimuat, saya tidak memotongnya dan menjadikan kliping. Tapi saya rawat edisi tersebut dengan memasukkanya ke plastik bening. Saat-saat seperti itu sungguh bermakna dan membekas.

Beberapa edisi BOLA yang memuat tulisan saya. 


Berkembangnya media online menjadi alasan BOLA tutup. Edisi terakhirnya terbit Jumat 26 Oktober 2018. Bola terbit seminggu dua kali memang kalah cepat memberitakan dibanding media online. Padahal sebenarnya BOLA menyajikan artikel yanglebih dalam sehingga membuat pembaca lebih "bergizi". Memang saya akui, saya juga sudah jarang membeli BOLA. Semakin jarangnya kios koran juga membuat susah mendapatkannya. Mungkin banyak diantara kita yang juga begitu, sehingga turut menjadi penyebab BOLA tutup.

Padahal dahulu BOLA sangat jaya. Pada 2010 frekuensi terbit bertambah dari dua kali seminggu menjadi tiga kali seminggu yaitu Senin, Kamis, Sabtu. Bersamaan itu juga terdapat Bola Sport yang membahas khusus olahraga selain sepak bola. Ditambah lagi pada 2013 BOLA menerbitkan edisi Harian. Tabloidnya juga tetap terbit seminggu sekali. Luar biasa. Namun Harian Bola tersebut tidak bertahan lama. Sekarang justru produk utamanya juga ikut berhenti. 

Harian Bola Tahun Pertama

Dengan tutupnya BOLA, maka habis sudah tabloid olahraga Indonesia. Empat tahun yang lalu, SOCCER sudah tutup duluan. Padahal dahulu saya sempat bingung kalau mau beli tabloid. BOLA atau SOCCER ya ? Ada saat-saat dimana saya membandingkan dua tabloid tersebut. SOCCER harganya lebih terjangkau dan full colour. BOLA lebih tebal halamannya dan artikel preview pertandingan lebih banyak. Sekarang tidak ada lagi tabloid olahraga yang bisa dipilih.

15 komentar:

  1. Balasan
    1. Iya mba. Sayang sekali. Tidak ada lagi tabloid olahraga

      Hapus
  2. Roda zaman terus berputar menggerus yang tidak bisa mengikuti putarannya.
    RiP Tabloid Bola

    BalasHapus
  3. Padahal jadi primadona dijamannya ya :)
    Memang bener sih membekas dan teringat sampe sekarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya walaupun dahulu sempat ada Go lalu Soccer, BOLA tetap perkasa. Namun perkembangan jaman yang menggerusnya

      Hapus
  4. Kalao saya mulai kenal n nyukup2in beli BOLA waktu 1998..pas jaman piala dunia Perancis.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahh sudah lumayan lama juga. Memang sayanya yang telat ckck

      Hapus
  5. Waahh keren yaa sempat dimuat juga tulisannya di BOLA. tapi ya begitulah perkembangan zaman. Bahkan tabloid dan koran sudah banyak yg gulung tikar. Karena saat ini orang lebih memilih mendapatkan informasi dari media online yg cenderung lebih mudah diakses. Setidaknya sudah diarsipkan beberapa kenangannya ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe iya Puji Tuhan mba, sempet ngerasain tulisan masuk BOLA. Iya sebelumnya banyak media cetak besar/bersejarah yang akhirnya tutup. Iya yang penting sudah diarsipkan hehe

      Hapus
  6. hmmm tuntutan zaman yang semakin maju. revolusi teknologi 4.0 banyak men-desrupsi yang dulu kuat berdiri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya... dahulu sepertinya terlihat bakal kokoh. Namun siapa yang menyangka sekarang malah tutup

      Hapus
  7. Jadi ingat, dulu sering nemenin teman Bapak saya belanja koran bola. Lalu sesekali baca juga. Sempat ngga ngeh bahwa itu koran bola. Dan sekarang udah tutup aja. ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah secara tidak langsung bapaknya mengenalkan tabloid Bola ya. Saya harus sadar sendiri, bapak saya cuma baca kompas

      Hapus
  8. nyesek aku liat tabloid bola tutup
    sku juga suka kartunnya apalagi dulu pernah punya poster timnas prancis gede bangat pas euro 2000

    hiks

    BalasHapus

Silakan mengirimkan komentar yang sesuai dengan postingan diatas.

Tolong berkomentar menggunakan nama pribadi. Jangan nama produk/bisnis/judul postingan artikel. Komentar menggunakan nama tersebut terpaksa akan saya hapus.

Praszetyawan.com

Sebuah blog personal berdiri sejak 2009

Terpopuler Bulan Ini

Random

randomposts