Brian Prasetyawan's Blog

Karena yang tertulis akan bernilai di masa depan

PENTING !

Revisi Buku Blog Untuk Guru Era 4.0

Buku Blog Untuk Guru Era 4.0 sudah terbit dan dapat dibeli. Beberapa eksemplar sudah sampai di tangan pembaca. Namun saya sebagai penuli...

02 April 2020

Pelatihan Menulis KSGN (15): Pembelajaran Daring. Bagaimana Seharusnya ?

April 02, 2020


Saat ini masa social distancing membuat kegiatan belajar siswa dilakukan di rumah. Dengan sambungan internet dan berbagai media sosial/kelas online, siswa mengikuti pembelajaran dengan guru. Namun sering terdengar bahwa guru hanya memberi tugas dan bahkan tugasnya terlalu banyak. Lalu bagaimana seharusnya pembelajaran daring ini berlangsung ?

Saya bersama peserta grup menulis bersama Om Jay mendapat kesempatan bertemu Bapak Indra Charismiadji melalui video conference webex. Ini pertama kalinya narasumber grup menulis menyampaikan materi melalui video conference. Bapak Indra merupakan pemerhati dan praktisi pendidikan 4.0. Belum lama ini beliau tampil dalam salah satu acara di Jak TV sebagai narasumber. Beliau sangat paham bagaimana pembelajaran daring dilakukan sesuai dengan era 4.0 saat ini.

Terkait pendidikan yang seharusnya berjalan, Pak Indra mengingatkan kembali tentang empat pilar pendidikan oleh UNESCO yaitu Learning To Know, Learning To Do, Learning To Be, dan Learning To live together. Beliau menyanpaikan bahwa pembelajaran yang berlangsung di Indoesia saat ini masih sebatas What to learn, sehingga berkutat pada konten/materi saja. Padahal seharusnya How To Learn yaitu bagaimana siswa terbiasa untuk mau mempelajari sesuatu dengan caranya dia sendiri.




Pak Indra menekankan bahwa konten/materi pelajaran saat ini sudah ada di google. Lalu untuk apa guru memberi materi, jika materi bisa dicari di google. Maka peran guru seharusnya adalah mendorong siswa untuk mencari tahu sendiri agar tumbuh rasa ingin tahu. Guru bisa menggunakan Problem based learning atau Project based learning (membuat karya) berdasarkan teori/materi yang diharapkan dipahami siswa. Sehingga ketika dalam proses memecahkan masalah, atau mencipta suatu karya, siswa dengan sendirinya akan merasa perlu mempelajari materi/pengetahuan yang diperlukan. Siswa pun akan merasakan manfaat pengetahuan yang dipelajarinya karena pengetahuan tersebut mendukung dalam menghasilkan pemecahan masalah maupun penciptaan karya. Maka Pak Indra mengingatkan agar guru kembali melihat 14 poin standar proses pendidikan.

Pak Indra juga menyampaikan bahwa  di masa depan akan banyak pekerjaan manusia saat ini yang akan diganti dengan teknologi/robot.  Siswa sekarang pun dimasa depan akan bekerja di bidang yang saat ini belum ada. Tentu ini sebuah tantangan tersendiri. Lalu, bagaimana cara menyiapkan siswa untuk bekerja yang bahkan pekerjaan itu saat ini belum ada ? Tentu kembali lagi pada proses belajar yang menghasilkan karya. Siswa dibiasakan untuk mencipta. Maka dimasa depan diharapkan siswa akan menciptakan sendiri pekerjaan untuknya bahkan membuka pekerjaan bagi orang lain.

Lalu apa contoh pembelajaran yang mendorong siswa mencipta ? Pak Indra memberi contoh menulis di blog, dan membuat vlog. Menulis akan merangsang daya nalar siswa. Tulisan yang dihasilkan juga merupakan sebuah karya. Membuat vlog akan mendorong siswa untuk menjelaskan sendiri suatu materi dengan bahasanya sendiri.

Pembelajaran yang mendorong kemampuan mencipta ada pada tingkatan C6. Salah satu peserta bertanya, "Bukankah untuk mencapai C6, siswa harus melalui tingkatan sebelumnya seperti C3,C4, C5 ?" Pak Indra menjawab bahwa siswa dapat didorong untuk bisa langsung ke C6 tanpa harus melalui tingkatan sebelumnya.

Selanjutnya Pak Indra membahas tentang 3I Framework. 3I Framework akan membawa guru dan siswa pada pembelajaran yang ideal. 3I Framework teridiri dari Infrastruktur, Infostruktur, dan Infokultur.

Guru di abad 21 memiliki tiga peran yaitu sebagai leader, motiviator, dan fasilitator. Sebagai leader, guru harus memberi teladan. Jika ingin siswa rajin belajar, maka guru juga harus rajin belajar untuk meningkatkan kompetensinya.

Di akhir pertemuan, Pak Indra memberi kesimpulan yaitu pendidikan yang mengacu pada 4 pilar pendidikan UNESCO. Proses pembelajaran bukan what to learn, tapi how to learn. Pembelajaran bukan mengutamakan penyampaian konten, tapi mendorong bagaimana siswa mau belajar.


01 April 2020

Pelatihan Menulis KSGN (14): Menulis Semudah Berbicara

April 01, 2020
.Pelatihan menulis secara online yang diselenggarakan Komunitas Sejuta Guru Ngeblog melalui Whatsapp group telah memasuki pertemuan ke-14 pada Selasa, 31 Maret 2020. Topik yang dibahas adalah menulis semudah berbicara menggunakan aplikasi Writer Plus. Narasumber pertemuan ini adalah Ibu Melni.

Ibu Melni menyampaikan langkah-langkah menggunakan writer plus yaitu:

  • Download aplikasi writer plus di playstore
  • Buka aplikasi writer plus
  • Klik tanda + untuk memulai


  • Sentuh kolom menulis, maka akan muncul keyboard. Tekan logo microphone untuk mulai bicara. Suara kita akan diterjemahkan dan berubah menjadi tulisan. Bagi yang tidak muncul logo microphonenya, harus lakukan pengaturan keyboard dahulu.
  • Kemudian peserta diajak untuk mencoba mengucapkan kalimat yang akan ditulis.
  • Ucapan yang berubah menjadi tulisan akan tersimpan.
  • Untuk dipindah ke microsoft word, tulisan pada writer plus bisa di share ke WA. Lalu buka WA lewat komputer. Copy tulisan writer plus yang sudah di share di WA. Paste ke microsoft word.


Ibu Melni menyampaikan bahwa aplikasi ini sangat simple untuk digunakan jika kita mau menulis baik sambil berjalan, tidur-tiduran tanpa harus membawa laptop setiap saat. Dimanapun kita bisa menulis. Sambil memasak, sambil istirahat, atau di KRL kita bisa menulis
Semakin berkembangnya teknologi membuat kita dimudahkan, termasuk dalam menulis. Maka tidak ada kata sulit atau terlambat untuk menulis. Tidak ada tulisan yang salah. Kita boleh menulis apa yang ingin kita tulis. Hanya perlu niat untuk melakukannya

28 Maret 2020

Pelatihan Menulis KSGN (13): Kisah Guru dengan 450 Buku Ber-ISBN yang Memuat Namanya !

Maret 28, 2020


Pelatihan menulis melalui grup Whatsapp memasuki pertemuan ke-13 pada Sabtu 28 Maret 2020. Narasumber kali ini adalah Ibu Emi Sudarwati. Beliau adalah Guru Bahasa Jawa SMPN 1 Baureno Bojonegoro, Jawa Timur. Pegiat Literasi Guru dan Siswa Indonesia. Lebih dari 450 buku ber-ISBN ada nama saya di dalamnya. Beliau juga merupakan pemenang pertama lomba inobel 2016 bidang sorak kemdikbud. Pada pertemuan ini Bu Emi akan membagikan pengalamannya seputar inobel dan menerbitkan buku.

Bu Emi memulai kisahnya dari tahun 2013. Pada tahun tersebut beliau bergabung dengan sebuah kelompok penulis di Bojonegoro, namanya PSJB (Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro).  Di sana beliau banyak berjumpa dan berkenalan dengan penulis-penulis senior.  Seperti : JFX. Hoery (Padangan-Bojonegoro),  Sunaryata Soemardjo (Ngimbang-Lamongan), Nono Warnono (Gajah Indah-Bojonegoro), Gampang Prawoto (Sumberrejo-Bojonegoro), Sri Setyo Rahayu (Surabaya), almarhum Anas AG (Pemred  Radar Bojonegoro-waktu itu), dan masih banyak lagi yang lainnya.
Dari orang-orang hebat di dunia tulis-menulis itu, akhirnya Bu Emi mendapatkan pencerahan.  Bahwa karya siswa yang sudah terkumpul bisa diterbitkan dengan ISBN (Internsional Standart Book Nomber).

Pada awal tahun 2014 terbitlah Kumpulan Cerkak karya Emi Sudarwati dan Siswa SMPN 1 Baureno dengan judul buku LUNG. Pada penghujung tahun 2014.  Kembali bekerja sama dengan PSJB, menerbitkan buku karya Emi Sudarwati dan Siswa SMPN 1 Baureno.  Tidak berhenti sampai di situ.  Karya-karya ini juga mendapat sambutan baik dari kepala sekolah, kepala dinas pendidikan, bahkan bupati Bojonegoro saat itu.

Sampai-sampai beliau dan siswa didatangi oleh salah satu wartawan radar Bojonegoro untuk wawancara.  Alhasil, besoknya tayang di surat kabar harian radar Bojonegoro yang sangat terkenal itu.  Dari sana,  semua penasaran dengan buku karya siswa tersebut.  Sehingga Toko Buku Nusantara Bojonegoro banyak diserbu pembeli buku.  Semua ingin membaca dan belajar menulis, serta menerbitkan buku.

Buku karya Emi Sudarwati dan siswa SMPN 1 Baureno  menjadi inspirasi bagi banyak sekolah.  Bukan hanya di Bojonegoro, namun juga di Kabupaten lain.  Sehingga sering diwawancara wartawan berbagai media,  baik cetak maupun on line.  Akhirnya bisa tampil di berbagai media tanpa harus membayar sepeserpun.

Pada tahun 2015 ini, Bu Emi ditugaskan untuk mengikuti lomba inobel tingkat nasional.  Awalnya ada rasa tidak percaya diri.  Namun karena Bapak Edy Dwi Susanto selaku kepala sekolah waktu itu tidak henti memberikan semangat dan motivasi.  Akhirnya beliau mengirimkan karya inovasi, meskipun dengan setengah hati.
Namun tidak disangka, ternyata dapat panggilan sebagai finalis inobelnas.  Bersama 102 guru dari seluruh Indonesia, beliau diundang ke Jakarta untuk presentasi.  Ternyata bukan hanya presentasi, tetapi ada ujian tulis juga.  Seusai lomba, seluruh finalis diajak berwisata di Dufan.  Meskipun belum mendapat juara, namun Bu Emi sudah cukup bangga, bisa belajar bersama guru-guru hebat dari seluruh tanah air.
Di samping itu, beliau juga mendapat rekomemdasi dari PSJB untuk mengikuti sayembara di BBJT.  PSJB adalah kepanjangan dari Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro.  Sedangkan BBJT kepanjangan dari Balai Bahasa Jawa Timur.  Lembaga tersebut, setiap tahun mengadakan sayembara, yaitu pemilihan sanggar sastra, karya sastra Indonesia, karya sastra Jawa, dan guru bahasa berdedikasi.
Puji syukur, Bu Emi mendapat anugrah sebagai guru Bahasa Jawa Berdedikasi.  Hal ini disebabkan karena sudah menerbitkan beberapa buku karya sastra siswa.  Semua itu diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi guru-guru lain untuk lebih berinovasi lagi.  Dengan status baru ini, penulis merasa memiliki tanggung jawab moral, agar lebih giat menularkan virus literasi di manapun juga.  Bukan hanya untuk siswa, namun juga untuk sesama guru.  Bukan hanya di Bojonegoro saja, tetapi sampai ke luar daerah.

Pada tahin 2016, Bu Emi ditugaskan mengikuti seleksi guru prestasi tingkat Kabupaten Bojonegoro.  Sebenarnya saat itu sudah untuk yang ke dua kalinya.  Karena banyak guru menolak mengikuti seleksi tersebut, akhirnya bu Emi ditugaskan lagi.  Ternyata tidak sia-sia.  Karena bisa menduduki juara ke tiga dari tiga puluhan peserta.
Pada tahun yang sama, Beliau kembali mengirimkan karya inobel.  Kali ini bukan atas inisiatif  bapak kepala sekolah, tetapi keinginan beliau sendiri.  Karena pengalaman tahun 2015 lalu begitu menginspirasi.  Kali ini bukan karya baru.  Namun karya lama yang diedit, dengan tambahan sesuai yang diberikan oleh dewan juri.  Alhasil, mendapat juara 1 inobelnas kategori SORAK (Seni, Olah Raga, Agama, bimbingan Konseling dan Muatan Lokal).

Tidak lama seusai lomba, Bu Emi mendapat panggilan untuk short Course di Negeri Belanda.  Belajar sistem pendidikan di negri kaum penjajah yang super maju itu.  Berkunjung ke dua universitas terbaik, yaitu Windesheim dan Leiden.  Juga berkunjung ke sekolah-sekolah terbaik, yaitu Van Der Capellen dan lain-lain.  Bukan hanya itu, semua peserta diajak berwisata ke Volendam, menyusuri Kanal Amsterdam dan mampir ke Brussel-Belgia.

Sepulang dari Belanda, masih juga mendapat panggilan workshop menulis jurnal di Kota Bali. 
Lagi-lagi, di samping belajar juga bisa berwisaya keliling kota terindah di negeri ini.  Kali ini, semua peserta mendapat materi merubah naskah inobel menjadi jurnal.  Tentu ini bukan hal kecil, karena naskah tersebut akan dimuat dalam jurnal berkelas nasional.  Nama jurnalnya adalah DEDAKTIKA.

TAHUN 2017
Tidak berhenti sampai di situ.  Beberapa bulan berikutnya.  Penulis diundang untuk mengikuti workshop Literasi di Kota Batam.  Tidak ingin melewatka kesempatan, beberapa peserta menyempatkan mampir ke negara tetangga, yaitu Singapura.  Sehari di kota lion, melahirkan sebuah buku berjudul Dag Dig Dug Singapura.
Bukan aji mumpung atau apa, hanya tidak ingin melewatkan kesempatan baik.  Kapan lagi seorang guru bisa jalan-jalan ke Singapura, kalau bukan memanfaatkan kesempatan baik tersebut.
 Kebetulan juga bertepatan dengan liburan sekolah, jadi sama sekali tidak mengganggu kegiatan belajar-mengajar di sekolah.

Paska menyandang predikat juara I inobelnas, Bu Emi belum boleh lagi mengikuti lomba yang sama.  Tentu dalam waktu yang belum bisa diprediksi.  Oleh karena itu, beliau tidak ingin kesepian.  Lalu mengajak teman-teman alumni finalis inobelnas untuk menulis bersama dalam satu buku.  Beliau menyebutnya dengan istilah Patungan Buku Inspiratif.
Bukan hanya karya yang bersifat ilmiah.  Namun dalam grup tersebut juga menerbitkan kumpulan cerita inspiratif,  berbagi pengalaman mengajar, kumpulan puisi, kumpulan pantun dan masih banyak lagi buku-buku lainnya.
Dalam perkembangan selanjutnya, bahkan bukan hanya menerbitkan buku-buku patungan.  Namun saat ini lebih banyak menerbitkan SBGI (Satu Buku Guru Indonesia) dan SBSI (Satu Buku Siswa Indonesia).

TAHUN 2018
Ratusan buku lahir dari grup Patungan Buku Guru Inspiratif.  Karena sejak tahun 2018 ini lebih banyak menerbitkan SBGI dan SBSI, maka nama grup dirubah.  Yaitu menjadi Penerbit Buku Inspiratif (PBI).  Beberapa undangan dari daerah-daerah lain mulai berdatangan.  Misalkan dari Kota Bogor, Sampang, Tuban, Blitar, Lamongan, Yogyakarta dan lain-lain.  
Akhirnya Bu Emi berinisiatif, hanya menerima undangan sebagai nara sumber pada Hari Sabtu-Minggu atau Jumat sore.
Sedang di Bojonegoro sendiri, beliau aktif sebagai Guru Ahli (GA) di Pusat Belajar Guru (PBG).  Setiap saat harus siap menerima panggilan sebagai pemateri seminar maupun pelatihan.  Juga sebagai juri dalam lomba-lomba guru.  Tempatnya bisa di PBG pusat atau di PBG kecamatan.
Selain di PBG, beliau juga aktif di PGRI.  Yaitu sebagai juri lomba Guru menulis dan pelatihan meulis buku.  Memotivasi guru-guru Bojonegoro agar lebih inovatif dalam mengajar, dan lebih kreatif dalam menulis.  
Menghimbau agar guru-guru lebih sering mengirimkan hasil karya ke media.  Jangan berharap sekali kirim pasti tayang atau dimuat.  Namun harus bersabar, terus-menerus mengirim naskah.  Lama kelamaan pasti dimuat juga.
Bukan karena penerbit merasa kasihan, tapi memang pengalaman meulis itu sangat diperlukan.  Dengan terus-menerus mengirim naskah, berarti sudah terus menerus belajar menulis pula.  Dari proses tersebut kita belajar.  Belajar meminimalisir kekesalahan.

TAHUN 2019
Bu Emi mengawali terbitnya buku Kado Cinta 20 Tahun dan Haiku.  Karya ini ditulis berdua dengan suami. Selanjutnya, di tahun yang sama, beliau ingin menerbitkan 2 buku tunggal dan beberapa buku patungan.  Buku tunggal yang pertama berbahasa jawa, yaitu pengalaman selama haji dan umrah.  Sedangkan buku tunggal yang kedua adalah   Menulis dan menerbitkan Buku sampai Keliling Nusantara dan Dunia.  Impian ini pun bisa menjadi nyata. Adapun untuk patungan, seperti sebelum-sebelumnya.  Yaitu menulis bersama siswa SMPN 1 Baureno dan bersama grup Patungan Buku Inspiratif.  Juga menulis bersama penerbit Pustaka Ilalang. 

Setelah membagikan pengalamannya, Bu Emi membuka kesempatan untuk bertanya. Para peserta sangat antusias. Pertanyaan-pertanyaan silih berganti memenuhi grup.Saya sendiri bertanya beberapa kali. Saya ingin tahu Bu Emi bergabung dengan grup apa. Beliau bergabung dengan grup WA Penerbit Buku Inspiratif. Namun sayangnya grup itu sudah penuh anggotanya.  Kemudian saya juga ingin tahu cara publikasi sekolah yang siswanya menerbitkan buku.

Mengapa publikasi itu perlu ? Bukan untuk pamer tapi untuk mendorong sekolah lain jagar uga ikut termotivasi melakukan hal yang sama, sehingga budaya literasi mengakar kuat di seluruh sekolah dalam satu wilayah. Ternyata cara Bu Emi cukup simpel, yaitu dengan mengupload kegiatan tersebut ke media sosial. Kebetulan pejabat dan wartawan melihat postingannya sehingga tertarik untuk meliput dan mengapresiasi. Terakhir saya bertanya tentang sistem titip buku di toko buku. Jadi kita harus cetak bukunya dahulu sebagai stok di toko buku. Jumlah yang dicetak bisa dimulai dari 10 buku.

Pertanyaan lain dari salah satu peserta mengenai cara memulai siswa untuk menulis. Kalau cara Bu Emi yaitu  Sebelum pembelajaran anak-anak baca buku.  Atau bisa 1 anak baca buku di depan, yang lain mendengarkan.  Kemudian semua mebuat ringkasan isi cerita tersebut.  Lalu saya tunjuk secara acak beberapa siswa membacakan ringkasannya.  Lama-lama anak akan memahami struktur cerita. Baru kita arahkan untuk menulis.

Peserta lain juga bertanya jenis buku yang paling mudah untuk penulis pemula. Bu Emi menjawab bahwa semua buku mudah ditulis jika sesuai dengan yang kita sukai. Misalkan kita suka baca novel, pasti sangat mudah menulis novel. Kalau kita suka baca karya inovatif, pasti akan mudah menulis karya inovatif. Lebih lanjut, Bu Emi menyarankan jika ingin memulai menulis, maka harus diawali dengan membaca.

Ada pertanyaan tentang strategi pemasaran buku ala Bu Emi. Beliau menjawab caranya yaitu dengan meniitip di Toko Buku Nusantara Bojonegoro, dan dibawa waktu seminar atau workshop. Sering posting di media sosial juga.Tapi paling enak buku patungan.  Tidak usah repot promosi, buku sudah tersebar ke seluruh Indonesia. Misalkan buku hasil patungan 50 penulis. Masing-masing penulis wajib membeli 10 eks.  Jadi buku langsung dicetak 500 eks.  Biaya produksi lebih murah juga.

Bu Emi mengungkapkan bahwa beliau suka penerbit indie,. Karena semua buah pikiran kita pasti bisa diterbitkan.  Yang terpenting, kita bisa menjadi penulis, distributor sekaligus penjual buku kita sendiri.

Bu Emi juga mau membantu peserta yang ingin menerbitkan buku. Beliau memberi tahu ketentuan, biaya, dan fasilitas yang diterima dari penerbit yang berada dibawah naungan Penerbit Majas Grup

Sekarang beliau program baru yaitu Wisata Puisi. Bisa dilihat  Channel youtube beliau yaitu Emi Sudarwati.

Terakhir, Bu Emi menyampaikan kesimpulan. Buku adalah bukti sejarah.  Merupakan catatan bahwa kita pernah hidup di dunia ini.  Oleh karena itu, saya ingin mengabadikan setiap jengkal perjalanan menjadi sebuah buku.  Setiap karya pasti akan menemukan takdirnya sendiri.  Semoga buku sederhana ini mengispirasi banyak orang

Pelatihan Menulis KSGN (12): Jangan Sampai Bernasib Tragis, Ini Cara agar Buku Kita Laris Manis !

Maret 28, 2020
gambar ilustrasi: freepik.com


Pelatihan menulis secara online yang diselenggarakan Komunitas Sejuta Guru Ngeblog melalui Whatsapp group telah memasuki pertemuan ke-12 pada Jumat, 27 Maret 2020. Topik yang dibahas adalah Strategi Pemasaran Buku. Om Jay kembali menjadi narasumber pada pertemuan ini.

Om Jay mengawali pertemuan dengan mengungkapkan keprihatinannya. Banyak Penulis setelah menerbitkan bukunya berakhir tragis. Bukunya tidak laku jual dan akhirnya diobral. Sebab mereka tak punya strategi pemasaran buku secara jitu dan tak mau belajar tentang pentingnya marketing untuk buku.

Strategi pemasaran penjualan buku ajar perlu memperhatikan empat faktor. Berbicara tentang marketing salah satu profesi yang banyak dihindari, namun paling banyak dibutuhkan oleh perusahaan. Apapun itu bentuk perusahaannya. Bagi seorang penulis buku, terutama penulis buku yang menerbitkan buku secara indie dan PoD penting menguasai strategi pemasaran buku.

Om Jay memberi beberapa link artikel referensi seputar strategi pemasaran buku. Berikut ini salah satu artikel yang dikutip dari penerbitdeepublish.com.

Ada empat strategi pemasaran buku agar terjual laris. Keempat tersebut meliputi splace, product, price dan promotion. Berikut ulasannya.

Place, Tempat Yang Strategis

Setiap orang itu pada dasarnya seorang marketing. Salah satu kunci kesuksesan marketing adalah memperhatikan place atau tempat. Pemilihan tempat yang strategi, tentu akan meningkatkan hasil penjualan buku. Tempat yang strategis memudahkan untuk dijangkau dan dikenal. Tidak hanya itu, lokasi yang strategis juga salah satu cara menjaring pelanggan.

Place dalam arti luas tidak berbicara tentang dunia lokasi penjualan. Termasuk membicarakan tentang kegiatan penyaluran produk berupa barang dan jasa berupa distribusi ke produsen dan ke konsumen.

Lokasi pemasaran melibatkan beberapa pelaku. Mulai dari tim marketing, agen, retailer dan distributor. distribusi menjadi poin penting dalam strategi pemasaran untuk menjaga ketersediaan barang dan jasa yang diperlukan oleh konsumen dalam waktu dan tempat yang tepat. Percuma jika lokasi strategi namun tidak diimbangi dengan ketersediaan yang memadai.

Strategi pemasaran mengandalkan tempat saja tidak cukup. Perlu adanya strategi distribusi buku dengan cara lain. Misalnya bisa mengandalkan media sosial, membuat website khusus dan sebagainya. Untuk mencapai titik ini, kita perlu memilih saluran distribusi secara terencana dan tepat. Misalnya melakukan survei dan riset terlebih dahulu. Selama melakukan riset, ada beberapa hal yang dicatat, yaitu mencatat sifat pembeli, sifat perantara, sifat produk, pesaing dan faktor harga.

Price, Harga yang Kompetitif

Strategi pemasaran buku adalah persoalan harga. Harga mampu mempengaruhi keputusan konsumen dalam memilih produk. Harga ditentukan berdasarkan sifat pembeli. Saat menentukan harga, adapun beberapa yang diperhatikan, misalkan mempertimbangkan letak geografisnya, frekuensi pembelian dan kebiasaan belanja masyarakat sekitar.

Harga kompetitif tentu akan menarik perhatian konsumen. Tidak heran jika pelaku marketing menetapkan harga  dengan cara memberikan diskon. Diskon dijadikan icon untuk menarik minat dan perhatian calon pembeli. Meskipun diskon tersebut diberikan dengan syarat tertentu.

Penentuan harga dapat digunakan sebagai media competitor dengan produsen yang serupa. Pernah mengamati dan membandingkan toko buku satu dengan toko buku yang lain? toko Z misalnya, menjual buku dengan harga lebih mahal. Sedangkan toko X menjual dengan harga lebih murah dari toko Z. Hasilnya, konsumen memilih tokoh Z yang lebih murah, meskipun merelakan jarak lebih jauh.

Di dalam strategi pemasaran buku terdapat tiga cara menetapkan harga. Pertama, cost oriented pricing, yaitu penetapan harga berdasarkan pendekatan biaya produksi. Cost oriented pricing dibagi menjadi tiga metode, yaitu metode penetapan harga biaya plus, penetapan harga mark-up dan target pricing.

Metode penetapan harga berdasarkan biaya plus sering digunakan dalam perusahaan produksi. Penentuan harga biaya plus dapat dilakukan dengan cara biaya total + laba = harga jual. Sedangkan metode penetapan harga mark-up untuk menentukan harga jual dengan cara harga beli + mark up. Metode yang terakhir adalah target pricing yang dilakukan berdasarkan tingkat pengembalian investasi yang diinginkan.

Kedua, demand-oriented pricing atau penetapan harga berdasarkan pendekatan kebutuhan dan permintaan. Metode ini sering ditentukan berdasarkan situasi tertentu. Ketiga, competition oriented pricing merupakan penetapan harga berdasarkan pendekatan persaingan pemasaran. Persaingan harga ini paling sering ditemui. Terutama untuk buku-buku yang sifatnya homogen.

Penepatan harga buku dapat ditentukan dengan dua metode. Yaitu metode perceived value pricing dan sealed bid pricing. Perceived value pricing salah satu upaya menetapkan harga setingkat rata-rata pasar. Sedangkan sealed bid pricing penetapan harga berdasarkan pada tawaran oleh pesaingnya.

Product, Mutu Product

Mutu produk sebagai indikasi strategi pemasaran. Kualitas produk menentukan jumlah permintaan. Mutu produk yang jelek dibandrol dengan harga sesuai dengan kualitas produk, berlaku untuk sebaliknya. Namun, jika yang terjadi mutu produk jelek dibandrol harga tinggi, tentu akan berpengaruh terhadap minat konsumen, dalam jangka waktu yang lama akan menyebabkan penurunan pengunjung.

Menjaga prodak menjadi kunci keberhasilan dalam melakukan strategi pemasaran. Dengan kata lain, menjaga kualitas prodak menjadi prioritas pertama. Jika penjualan di bidang buku, kualitas produk bisa saja masalah pengepakan dan penjilidan. Kecacatan dalam buku hal yang umum terjadi masalah tentang punggung buku yang tidak erat, jenis kertas dan masalah sepele lainnya.

Promotion, Kecepatan Promosi

Semua pasti tahu definisi promosi. Dalam strategi pemasaran buku  ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat melakukan promosi. Diantarannya harus berani untuk ditolak, cepat dalam menawarkan dan memiliki inisiatif menawarkan. Seorang strategi pemasaran handal dan berpengalaman tidak pernah takut ditolak. Belajar dari seorang sales yang jalan kaki menawarkan produk dari rumah satu ke rumah lain. Jaminan, mereka lebih banyak ditolak daripada diterima. Namun mereka tetap menawarkan produknya.

Promosi yang baik adalah promosi yang tepat sasaran. Untuk mencapai tepat sasaran, perlu kreativitas. Selain kreativitas, konsistensi dalam melakukan promosi itu penting. pentingnya konsistensi dapat mempengaruhi minat pelanggan.

Kaitannya antara konsistensi dan kreativitas dalam promosi seperti kasus ini. Sebut toko buku A dan toko buku B. Toko buku A dan B sama-sama menjual buku serupa. Hanya saja, toko buku A memberi diskon dan memberikan buku satu gratis untuk konsumen yang membeli lebih dari tiga judul buku. Sedangkan toko buku B tidak memberikan promo sama sekali. Dari kasus tersebut, jelas toko A yang lebih menarik perhatian untuk dikunjungi.

Banyak cara menciptakan kreativitas, tidak melulu memberikan diskon. Jika kita berada di posisi toko B, salah satu meningkatkan minat konsumen dengan membuat promosi lebih kreatif dan menarik. Selain melakukan promosi dalam bentuk promo, bisa juga promosi dengan cara mengutamakan kualitas barang dan pelayanan prima.

Pelayanan prima salah satu metode promosi yang murah meriah, dan bisa diaplikasikan oleh hampir semua orang. Konsumen yang puas dengan hasil pelayanan kita, mereka secara tidak langsung akan mempromosikan produk kita ke orang lain. Dalam bahasa jawa, istilah ini yang disebut getok lambe, yaitu mempromosikan dari mulut ke mulut konsumen, tanpa kita suruh sebelumnya.

Itulah keempat poin strategi pemasaran buku. Semoga ulasan tersebut memberikan wawasan, sudut pandang dan referensi. Jika Anda memiliki buku indie, tidak ada salahnya menerapkan strategi pemasaran buku ini. Jika berhasil, maka keuntungan hasil penjualan buku bisa 100%. Barangkali, berawal dari sinilah yang akan mengantarkan kita menjadi seorang marketing handal

***
Selain artikel tersebut, Om Jay membagikan link lain yang dapat dijadikan referensi strategi pemasaran buku:


  • http://baublogging.com/promosi-buku/
  • https://www.kompasiana.com/johanmenulisbuku/55006d9d8133119c17fa784f/strategi-pemasaran-buku
  • https://penerbitdeepublish.com/cara-menerbitkan-buku-strategi-pemasaran-buku-ajar/
  • https://www.astamediagroup.com/blog/5-strategi-pemasaran-untuk-meningkatkan-penjualan.html



Om Jay kemudian membagi pengalaman mendapat royalti dari penerbit mayor. Penulis baru kebanyakan lebih memilih penerbit indie daripada penerbit mayor. Hal ini bisa dipahami karena seleksi ketat dari Penerbit mayor. Kita akan merasakan sakitnya penolakan. Namun, bila buku diterima dengan baik oleh penerbit besar rasanya senang sekali karena mereka juga punya tenaga pemasaran atau marketing yg banyak.

Contoh kasus ketika Om Jay menang lomba naskah buku pengayaan kemdikbud tahun 2009 dan mendapatkan hadiah uang sebesar 20 juta. Waktu itu beliau senang sekali karena baru pertama kali dalam hidup memegang uang sebanyak itu.

Namun teman sekamar Om Jay, Pak Johan Wahyudi mengatakan bahwa itu belum seberapa. Sebab beliau sudah merasakan  royalti buku sebesar 200 juta. Beliau menulis buku ajar bahasa indonesia yang diterbitkan Tiga Serangkai Solo. Om Jay  kaget juga karena tak menyangka kalau royalty buku ajar bisa sebanyak itu dari penerbit mayor.

Penulis yang punya jiwa kewirausahaan pasti akan melihat peluang dari buku yang dituliskannya. Pernyataan tersebut cukup relate dengan saya. Buku pertama saya dibuat karena saya melihat peluang bahwa buku dengan topik penggunaan blog untuk guru masih jarang ada. Kebetulan sekali saya bergabung dengan grup pelatihan menulis ini. Beberapa peserta membutuhkan referensi sebagai panduan mengelola blog. Disitulah buku saya masuk untuk memenuhi kebutuhan referensi tersebut. Lewat buku itu, saya ingin mendorong dan mendukung agar guru-guru di Indonesia menulis di blog.


Kesimpulan materi strategi pemasaran buku pada pertemuan ini yaitu
1. Manfaatkan media sosial utk memasarkan biku.
2. Pasang iklan di media arus utama seperti koran dan majalah.
3. Adakan bedah buku.
4. Menggelar konferensi pers
5. Ajak komunikasi dengan peresensi buku kita
6. Manfaatkan kolegaa atau teman baik serta komunitas
7. Manfaatkan kesempatan yang ada dan biasanya saya jualan buku saat menjadi narsum


23 Maret 2020

Pelatihan Menulis KSGN (11): Guru Juga Bisa Menerbitkan Buku di Penerbit Mayor. Ini Kuncinya !

Maret 23, 2020
gambar: freepik.com

Pelatihan menulis secara online melalui Whatsapp group telah memasuki pertemuan ke-11 pada Senin, 23 Maret 2020. Topik yang dibahas adalah Mengirim dan Menerbitkan Buku di Penerbit Andi. Seharusnya narasumber yang memberi materi adalah Bapak Edi S Mulyanta dari Penerbit Andi. Namun beliau sedang berhalangan hadir. Maka, Om Jay yang menggantikan beliau. Om Jay  pernah menerbitkan buku di Penerbit Andi, sehingga beliau bisa berbagi pengalamannya kepada peserta grup pelatihan menulis.

Awalnya Om Jay menanyakan apakah ada peserta yang pernah menerbitkan buku di penerbit mayor. Ada yang menjawab "belum". Memang saya perhatikan teman-teman peserta grup pelatihan ini ada yang sudah menerbitkan buku, tapi sebagian besar menerbitkan di penerbit indie. Artinya mereka membiayai sendiri proses penerbitannya. Hal tersebut menjadi catatan tersendiri bagi Om Jay. Banyak guru yg seringkali tidak sabar untuk menerbitkan bukunya sehingga mereka keluar banyak uang untuk menerbitkan bukunya (melalui penerbit indie). Padahal guru yang justru seharusnya mendapatkan uang dari buku yang diterbitkannya.

Menurut beliau, banyak dari kita sebagai guru belum siap menerbitkan bukunya di penerbit besar atau mayor sehingga penulisnya diisi oleh dosen dosen di perguruan tinggi. Mengapa bisa seperti itu ?  Persoalan utamanya bukan karena guru tidak ada waktu tapi guru belum dilatih untuk membuat dan menerbitkan buku ajar.

Untuk membangkitan motivasi peserta, Om Jay mengirimkan file mengenai besaran royalti yang diterima dari Penerbit Andi. Nominalnya sungguh fantastis, mencapai puluhan juta rupiah ! Setelah saya perhatikan, kunci untuk mendapat royalti sebesar itu adalah jumlah buku yang terjual harus mencapai ribuan eksemplar. Melihat besarnya royalti tersebut, peserta menjadi mulai berani bermimpi untuk menerbitkan buku di penerbit mayor.

Selanjutnya Om Jay mengirim link tulisannya di kompasiana dan meminta peserta memberi kesimpulan. Tulisan tersebut berisi tentang kegiatan penyusunan buku Informatika yang dilakukan oleh tim guru TIK PGRI. Ada empat buku yang diterbitkan di Penerbit Andi.


sumber gambar: andipublisher.com


Kesimpulan dari Om Jay yaitu intinya guru harus mampu berkolaborasi dengan guru sekolah lainnya dan berkumpul dalam wadah organisasi guru. Sehingga mampu membuat karya agung yang bisa digunakan untuk semua sekolah. Karena itulah penerbit besar mau menerbitkannya karena memang layak jual dan mendatangkan keuntungan di kedua belah pihak. Maka kunci agar guru bisa menerbitkan buku di penerbit mayor adalah guru harus dibiasakan membangun supertim dalam pembuatan buku ajar. Sudah tidak jamannya lagi kita menjadi superman. Apalagi hanya memperkaya dirinya sendiri saja.

Om Jay juga memberi tahu petunjuk teknis dalam penerbitan. Beliau sampaikan bahwa sebelum diterbitkan biasanya ada SPP yang harus ditanda tangani antara penerbit dengan penulis.

Seorang peserta bertanya mengenai kiat yang harus diterapkan untuk bisa lolos penerbit mayor. Untuk hal itu, Om Jay menyarankan agar kita mengakses web penerbit. Biasanya penerbit memberi tahu cara dan jenis buku yang diinginkan.

Kesimpulan materi malam ini adalah untuk menulis dan menerbitkan buku di penerbit mayor perlu kolaborasi dan membangun supertim dalam wadah organisasi profesi guru yang kredibel dan sudah berpengalaman.

22 Maret 2020

Home Learning Ala Guru Milenial Ibukota

Maret 22, 2020
Besok (23/03) merupakan hari keenam pelaksanakaan home learning bagi siswa di sekolah saya. Artinya sudah 5 hari home learning dilakukan. Bagaimana sistem yang saya jalankan ? Aplikasi pembelajran apa yang saya pakai ?

Sebelum masuk kesitu, saya ingin ceritakan bahwa kebijakan home learning ini cukup mendadak. Saya tidak sempat bertemu dengan siswa karena sebelumnya saya melakukan pelatihan selama seminggu. Banyak aplikasi pembelajaran yang disarankan oleh dinas pendidikan, Kemdikbud, dan pihak lainnya. Hmm... mau pakai yang mana ya ?

Jika bicara media pembelajaran online, saya tidak pernah lepas dengan yang namanya blog. Sejak masa kuliah, saya berusha mengenalkan blog sebagai media pembelajaran online. Masih jarang guru-guru yang memakai atau bahkan mengenal blog. Adanya kebijakan home learning menjadi momen yang tepat untuk menunjukkan betapa berfungsinya blog untuk pembelajaran.

Saya cukup bersyukur karena saya sudah membiasakan siswa mengakses blog sebagai bagian dari kegiatan belajar. Alamat blog pembelajaran saya yaitu www.bahastematiksd.blogspot.com. Saya kerap memasang soal online dari google form di blog itu. Saya juga pernah memberi rangkuman sebagai salah satu bahan belajar untuk Penilaian Harian. Dengan demikian, setidaknya siswa sudah cukup familiar dengan blog.

Blog Pembelajaran


Jadi terjawab sudah, saya menggunakan blog sebagai media home learning. Selanjutnya saya perlu aplikasi untuk menunjang interaksi dengan siswa. Memang yang banyak digunakan dan paling mudah adalah membuat grup WA baru. Namun saya ingin mencoba menggunakan aplikasi lain yang lebih rapi dan teratur tampilan interaksinya serta memberi pengalaman baru bagi siswa.
Google Classroom

Suatu ketika, saya melihat status teman yang menggunakan Google Classroom. Saya pun bertanya kepadanya dan membahas banyak tentang aplikasi itu. Akhirnya saya pun tertarik menggunakannya. Menurut saya, ketika siswa menggunakan aplikasi itu, akan lebih terasa nuansa belajarnya hehe. Kebetulan seluruh orang tua siswa di kelas saya memiliki handphone. Jadi pembelajaran dan interaksi secara online dapat dilakukan. Namun memang ada siswa yang baru bisa menggunakan handphone saat malam hari ketika orang tuanya pulang dari tempat kerja. Maka, saya tidak membatasi pukul berapa siswa mengirim tugas.



Sebenarnya saya agak khawatir jika siswa/orang tua kesulitan memahami cara memakai google classroom. Saya hanya memberi panduan lewat WAG kelas. Setelah dicoba, Puji Tuhan sebagian besar bisa bergabung ke classroom saya.

Untuk pemberian tugas, saya hanya menggunakan google form yang dipasang di blog. Saya tidak menggunakan fitur yang ada di google classroom karena dikhawatirkan akan menyulitkan siswa. Seperti yang saya katakan, google classroom untuk media interaksi saja.

Begitulah pengalaman saya menerapkan home learning. Saya merasa kebijakan ini cukup mendorong guru untuk berpikir kreatif. Siwa pun juga kreatif dalam belajar. Saya melihat status medsos rekan-rekan guru tentang proses dan hasil  siswa melaksanakan home learning. Ada yang dalam bentuk video, dan ada yang berupa foto karya keterampilan siswanya.

Praszetyawan.com

Sebuah blog personal berdiri sejak 2009

Terpopuler Bulan Ini

Hubungi Saya

Email: brian_cisc@yahoo.co.id


Instagram @brianprasetyawan

Facebook Raimundus Brian Prasetyawan