Memuat...

20 Agustus 2016

Perpustakaan Tak Aktif, Pojok Baca Kelas pun Jadi.

- 2 comments
"Yah pak....!! baru juga baca sebentar !".

Teriakan kekecewaan yang terdengar menyenangkan bagi saya. Lho gimana sih ? Murid kecewa kok malah seneng ? Tidak. Saya tidak aneh kok hehe. Saya seneng karena berarti mereka benar-benar memiliki ketertarikan dan minat baca buku yang cukup tinggi. Kalo tidak tertarik, tentu mereka akan biasa saja ketika saya menghentikan waktu membaca. Saya sebenernya juga nggak rela membatasi kesempatan membaca mereka. Tapi kalo sudah saatnya pulang ya mau ga mau harus dihentikan.

Minat baca yang tinggi seperti itu harusnya tidak hanya berlaku pada anak SD saja tapi juga kalangan remaja dan orang dewasa. Saya sebagai penyuka buku, cukup gregetan ketika bertahun-tahun fakta yang selalu beredar adalah minat baca orang Indonesia rendah. Maka saya ingin sekali menularkan virus minat baca ke orang lain. Tapi kalo kepada teman-teman sebaya sepertinya sulit. Karena minat baca akan timbul bila mengaanggap bahwa membaca itu menarik. Di satu sisi mereka kayaknya punya ketertarikan lain dibanding membaca.

Nah..... Profesi saya sebagai guru sangat strategis untuk mendorong minat baca anak-anak. Dengan wewenang yang saya miliki sebagai guru, saya bisa mengarahkan kegiatan yang mendorong kebiasaan membaca.

Ketika mengawali kiprah di SDN sumur batu 01, Saya cukup prihatin dengan perpustakaannya. Jumlah bukunya sih cukup memadai. Namun luas ruangannya kurang ideal dan ternyata tidak ada petugas perpusnya. Kalau seperti itu kondisinya akan sulit mengarahkan siswa agar terbiasa membaca.

Maka saya bagaimana caranya agar budaya membaca tetap terwujud. Akhirnya saya memulainya  dari kelas saya dahulu. Saat itu saya mengajar kelas 2. Setelah saya perhatikan, ternyata murid-murid tersebut punya minat baca yang tinggi. Terbukti mereka antusias ketika saya persilahkan baca buku.



 Namun kebiasaan membaca belum berjalan ideal. Waktu belajar yang pendek tidak memungkinkan menyelipkan waktu khusus untuk membaca di setiap hari. Maka saya hanya menjadwalkan waktu membaca setiap hari Selasa, menjelang pulang sekolah. Beberapa  buku perpustakaan saya bawa ke kelas.  

Saya juga cukup sulit menemukan buku dari perpus yang benar-benar pas untuk murid. Ada yang terlalu banyak tulisan dan tidak berwarna, ada yang kontennya terlalu berat untuk anak. Sebagian anak pun jadinya hanya membuka-buka halaman sebentar lalu mengembalikannya lagi. Akhirnya saya membelikan 6 buku cerita, kebetulan ada cuci gudang buku anak di gramedia pondok gede hehehe. Memang hanya sedikit sih tapi setidaknya buku yang benar-benar dibaca murid, bertambah. Penempatan Buku-buku pun hanya ditumpuk saja. Saya sebenernya juga ingin menata buku-buku itu, agar di kelas terdapat pojok baca yang permanen. Tapi keterbatasan tempat, membuatnya tidak memungkinkan.

Nah.... sekarang ini barulah kebiasaan membaca di kelas saya berjalan cukup ideal. Kini saya mengajar kelas 3. Di belakang kelas terdapat meja besar yang memungkinkan untuk meletakkan buku lebih leluasa, sehingga terwujudlah pojok baca di kelas. Frekuensi kesempatan membaca pun menjadi setiap hari. Sistem yang diterapkan adalah siswa yang sudah selesai mengerjakan soal latihan boleh baca buku. Melihat antusiasme yang begitu tinggi saya juga semangat untuk membeli buku lagi dan meminjam dari perpus gereja hehe.


Perpus gereja sudah vakum dan buku-bukunya terbengkalai. Sayang kan. Yaudah mending saya pinjem aja untuk murid saya hehehe. Kini terdapat 47 buku dan semuanya sudah sesuai dan menarik untuk anak. Walaupun kegiatan membaca ini sudah berlangsung berminggu-minggu, antusiasme mereka tak surut. Bahkan ketika saya lupa mempersilakan mereka baca buku, salah satu murid bertanya:

"Pak boleh baca buku nggak ?"

Kebiasaan membaca yang telah berjalan itu, mulai memperlihatkan hasilnya. Saat itu pelajaran bahasa Indonesia membahas tentang watak tokoh dalam sebuah cerita. Saya pun mengambil secara random salah satu buku cerita sebagai bahan untuk membahas watak tokoh bersama murid. Tak disangka, banyak diantara mereka yang menanggapinya dengan menyebutkan tokoh-tokoh dan jalan ceritanya. Gurunya saja belum tau isi ceritanya hahaha. Itu membuktikan bahwa saat diberikan kesempatan membaca, mereka benar-benar membacanya hingga ceritanya pun masih melekat diingatannya. Sungguh momen yang menyenangkan. Saya dan murid seperti anggota klub buku yang sedang membedah sebuah buku.


Jadi.... sebenarnya minat baca orang Indonesia bisa saja tinggi jika sejak dini telah di fasilitasi buku yang memadai. Dari kebiasaan membaca sejak dini, diharapkan minat baca tetap terjaga sampai dewasa nanti.
[Continue reading...]

19 Agustus 2016

Bukan Pulpen Biasa

- 0 comments
(Jam istirahat, saya mau keluar kelas dan masih ada beberapa murid di dalam kelas)

Murid A: "Pak... tunggu dulu" (berdiri dari tempat duduknya)

Saya: (sambil berjalan keluar kelas) "Kenapa ??"
Murid A, B, C: (agak berlari ke arah saya) "Tunggu  pak"
Saya: (berhenti di lorong depan kelas) "Ada apa sih ?"
Murid A, B, C: "Ini pak untuk bapak" (masing-masing memberikan satu pulpen kepada saya)
Saya: "Lho..... Untuk bapak ?
Murid A, B, C: Iya paakkk...
Saya: Dalam rangka apa ini ? bapak nggak ulang tahun kok " (sambil senyum-senyum)
Murid: Nggak papa pak.... Ya untuk bapak aja. Rasa terimakasih.
Saya: "Oh.... iya yaudah.. trimakasih ya"
Murid A, B, C: Iya pak.... (sambil agak berlari kembali ke dalam kelas)
Bagi anda, khususnya guru muda, Kejadian di atas mungkin sudah sering dialami dan mungkin juga terkesan biasa saja. Tapi tidak bagi saya. Karena pada dasarnya saya merasa sebagai guru yang biasa saja. Baik dalam hal cara mengajar maupun kedekatan dengan murid. Sehingga saya sangat jarang mengalami hal itu dan saya pun tidak terlalu berharap murid akan seperti itu. Walaupun sebenarnya saya juga mau mendapat perlakuan seperti itu dari murid. Apalagi kalau lihat post temen-temen pgsd/cpns guru di medsos, saat mereka mendapat perhatian dari murid. Makin pengen juga digituin hehe.

Memang hanya tiga buah pulpen hitam biasa. Namun bukan itu poinnya. Ada hal yang lebih bernilai, yang bisa dianalisis dari kejadian itu. Kepekaan, Inisiatif, dan Perhatian (mungkin ada nilai-nilai lainnya). Maka, saya pun senang dan mengapresiasi tindakan tiga murid perempuan itu. Karena ketiga nilai yang melatarinya itu membuat saya merasa tindakan mereka begitu "mahal". Hal lain yang membuatnya "mahal" adalah..... Kejadian ini tidak dilatari event apapun seperti hari guru, ultah saya, atau perpisahan. Nggak ada hujan nggak ada angin, eh tau-tau tiga anak itu kasih pulpen ke saya. Kalau memberi sesuatu saya pas ada event, bisa saja karena memang tradisi atau ikut-ikutan teman.

Lebih lanjut, kejadian itu membuat saya makin bersyukur menjadi guru dan juga makin menguatkan saya. Karena selama ini tidak jarang saya suka menyalahi diri sendiri karena merasa belum menjadi guru yang ideal.

Jika dianalisis lagi, ini merupakan indikator bahwa murid telah dengan terbuka "menerima saya". Indikator itu perlu bagi saya agar lebih percaya diri dan mengurangi kebiasaan saya menyalahi diri sendiri dalam kaitannya sebagai guru.

Pada akhirnya dengan adanya kejadian itu, saya berharap itu merupakan tanda bahwa mereka datang ke sekolah untuk belajar dengan niat dari kesadaran sendiri bahwa mereka butuh belajar. Bukan karena terpaksa menjalani rutinitas sehari-hari

NB: Saya menulis postingan ini murni sebagai ungkapan syukur. Bukan bermaksud lebay lho ya hehe.

[Continue reading...]

31 Juli 2016

Tentang Pak Anies

- 0 comments


Saya kaget ketika Anies Baswedan termasuk Menteri yang terkena Reshuffle. Sepertinya bukan cuma saya saja tapi kebanyakan orang, terutama kalangan guru. Tidak disangka Pak Anies harus meninggalkan Kemendikbud. Kalau saya lihat dari medsos, banyak yang merasa berat, kehilangan, dan sedih dengan peristiwa itu.

Netizen makin terharu ketika surat dari Pak Anies menyebar secara viral. Jika diibaratkan, Pak Anies seperti guru muda yang disukai murid-muridnya namun harus pindah sekolah. Murid-murid tentu sedih dan merasa kehilagan. Biasanya murid-murid kemudian menulis surat untuk gurunya tersebut. Netizen pun begitu, mulai dari instagram, facebook, hingga blog, mereka menulis curahan pendapat dan kesannya terhadap Pak Anies. Ya sama kayak yang saya tulis ini hehe.

Saya berpikir sebagai orang awam, seorang menteri diganti kalau membuat kesalahan atau tidak terlihat kerja nyatanya. Bagaimana dengan Pak Anies ? Kalau saya melihatnya, beliau tidak membuat keputusan atau bertindak yang kontroversial. Kinerjanya pun cukup terlihat dan terasa walaupun memang tidak se-spektakuler Bu Susi (Menteri KKP). Gerakan Literasi Sekolah (15 menit baca buku sebelum pelajaran dimulai), Menghentikan sementara kurikulum 2013, UN bukan penentu kelulusan, ajakan kepada orang tua untuk mengantar anak sekolah, MOS tanpa kekerasan, gerakan UN jujur, merupakan contoh kebijakan kecil tapi sangat terasa ke masyarakat luas.

Nah itu yang membedakan Anies dengan Mendikbud sebelum-sebelumnya. Peranan menteri selalu berkutat pada pembuatan atura-aturan formal. Tapi kalo Pak Anies kebijakannya berbasis pada gerakan/ajakan. Gerakan-gerakan itu menjadi awal dari tumbuhnya kebiasaan hingga akhirnya menjadi budaya. Ini yang luar biasa dari Pak Anies. Ia mampu menanamkan kebiasaan-kebiasaan positif agar tumbuh di kalangan masyarakat.

Maka wajar banyak orang merasa kehilangan, karena Pak Anies mampu mengayomi berbagai kalangan yang terkait dengan pendidikan. Mulai guru, siswa, hingga orang tua siswa.. Masyarakat telah merasakan berbagai kebiasaan baik yang ditebarkan oleh Pak Anies.

Melihat kinerja-kinerja Pak Anies tersebut, jika diibaratkan sebagai siswa yang mengerjakan ujian, Pak Anies sudah melewati KKM tapi memang nilainya tidak 90 atau 100. Tapi kan setidaknya nilainya bagus, diatas KKM.

Kenapa tetap diganti ?

Mungkin ada indikator-indikator dari Jokowi yang kita tidak tahu. Katanya sih Pak Anies belum memenuhi ekspetasi presiden dan belum membuat gebrakan. Lah terus apa kabar kementrian yang lain ? Apa gebrakannya ?

Jadi kalau saya merasa bahwa Pak Anies merupakan korban politik. Pengganti Pak Anies adalah tokoh Muhhamadiyah. Memang bukan dari kalangan parpol sih. Tapi Muhamadiyah identik dengan PAN. Seperti NU yang identik dengan PKB. Dan lebih jauh lagi, PAN merupakan salah satu partai pendukung pemerintah. Memang sih itu masih sekadar opini subjektif saya.

Di sisi lain, Anies tidak memiliki daya tawar politik yang kuat karena beliau bukan dari kalangan parpol ataupun ormas (cielah... bahasanya udah kayak pengamat politik wkwkwk).

Walaupun begitu, katanya pengganti Pak Anies juga cukup berkompeten di bidang pendidikan. Track recordnya katanya sudah sesuai. Ya kita lihat saja nanti. Semoga saja ada kebijakan yang membuat pendidikan Indonesia lebih baik dan bukan malah menimbulkan gonjang-ganjing seperti dipaksakannya penerapan kurikulum 2013 beberapa waktu lalu.

sumber gambar: kompas.com, facebook.com
[Continue reading...]

04 Juli 2016

(Harusnya) Menikmati Liburan

- 0 comments
Lebaran tinggal sebentar lagi. Para pekerja dari berbagai profesi pasti udah libur atau mengambil cuti. Kebanyakan liburannya seminggu ya. Tapi kalo saya beda. Karena kerjaannya ngajar anak sekolah, jadi liburnya 3 minggu ! hehehe. Jadi saat tulisan ini dibuat, udah memasuki minggu kedua liburan.

Libur lebaran tentulah identik dengan mudik. Trus apakah saya juga mudik ? Tidak. Soalnya bagi keluarga saya, pulang kampung memang bukan menjadi ritual yang wajib dilakukan tiap tahun. Mau lebaran kek, natalan kek, tetep di rumah aja. Soalnya, mbah dari kedua orang tua saya udah dipanggil Tuhan semua. Nah satu lagi yang bikin keluarga saya ga perlu pulkam. 80% keluarga besar dari bapak maupun ibu saya sudah tinggal di RT dan kecamatan yang sama dengan keluarga saya.

Yaudah kelar dah kan ya. Biasanya kita pulang kampung untuk ketemu sodara-sodara di kampung, atau sodara yang mencar di berbagai kota biar bisa nyatu di kampung halaman. Tapi kami sepanjang hari udah nyatu di RT yang sama hehehe.

Makanya pulkam menjadi "barang mewah" buat keluarga saya, karena saking jarangnya. Tapi saya sendiri sih gak papa. Bertahun-tahun udah biasa ga pulkam. Mau seberapa panjang liburannya, udah biasa di rumah aja.

Libur lebaran ini saya juga di rumah. Seharusnya gak ada masalah karena udah biasa. Tapi kali ini beda. Saya ngerasa ada yang ga beres selama liburan di rumah. Ada yang mengganjal di pikiran saya hingga membuat saya kurang nikmatin hari-hari libur (tenang aja.. penyebabnya bukan karena keseringan mikirin kamu kok #eeaa hahaha)

Setelah dipikir-pikir, kayaknya pikiran saya mikir tentang pekerjaan. Ya, saya masih punya "utang" 3 RPP yang harusnya udah dibikin semester kemarin. Belum lagi sebaiknya saya mencicil bikin administrasi untuk semester besok. Nah jeleknya adalah.... Saya mager bikin RPP itu, tapi disisi lain saya malah jadi kepikiran mulu. Jadilah saya melewati hari-hari dengan bawaan pikiran itu tapi kurang ada niat ngerjainnya. Iya baiknya coba dikerjain aja ya. Udah dicoba sih. Tapi pas ngerjain saya kelamaan buat mikir juga. Capedee...

Liburan di rumah sebenarnya tetap aja bisa dinikimatin. Asalkan pikiran jangan mikir soal kerjaan. Walaupun liburan kerjaannya makan-internetan-tidur mulu tapi kalo ga ada beban pikiran ya enak-enak aja. Biasanya saya udah cukup nikmatin liburan dengan ngeblog.

Pada akhirnya, tulisan ini memang ga ada faedahnya kali ya hahaha. Cuma buat ngelepasin aja apa yang ada dipikiran ini.
[Continue reading...]

02 Juli 2016

Jelajah Kepulauan Seribu

- 1 comments
"Bri..... mau ikut gak ke kepulauan seribu. Itu masih ada sisa buat 1 orang"

Begitulah kira-kira ucapan bapak saya, yang menjadi awal terwujudnya trip saya ke kepulauan seribu (kepser). Namun entah kenapa saya kurang exited mendengar tawaran tersebut. Mungkin karena pesertanya bapak-ibu guru, dan karyawan komplek sekolah bapak saya. Jadi kurang nyambung gitu sama saya (yang anak muda gitu loh hahaha). Saya pikir nanti cuma jadi anak ilang.wkwk.

Tapi... ibu saya malah ngebet banget nyuruh saya ikut. Yaudahlah itung-itung buat pengalaman deh. Soalnya saya juga belum pernah ke kepser. Bahkan ini pertama kalinya saya keluar dari pulau Jawa hehehe (ketauan deh kalo saya kurang piknik -_-).

Maka jadilah saya ikut perjalanan tersebut pada Sabtu, 17/06/2016. Pertama, kami menuju ke sekolahan bapak saya. Dari sana, bareng-bareng naik mobil ke pelabuhan Muara Angke. Namun cuaca kurang bersahabat. Rintik-rintik hujan tak berhenti sepanjang pagi.

Jalan masuk menuju pelabuhan juga banjir. Kami sempat ragu dan mikir beberapa lama, mau diterobos atau nggak. Akhirnya nekat diterobos. Puji Tuhan nggak mogok mobilnya. Sampai pelabuhan jam 7 dan cuaca juga masih begitu. Aroma ikan cukup menyengat di pelabuhan. Kami dibagikan tiket, saya lihat harganya 55 ribu. Ada dua anak muda pemandu kami, cowok dan cewek. Jam 8 akhirnya kapal berangkat. Tujuannya adalah Pulau Kelapa, tempat kami menginap.

Kondisi cuaca membuat ombak lumayan besar. Tapi saya kira ombak segitu gak akan terlalu mengguncang kapal. Tapi dugaan saya salah besar. Saya tidak menyangka kapal akan terombang-ambing. Sampai saya pun akhirnya mabuk laut. Hadeuh.. lemah banget ya. Kenapa ya saya bisa mabuk. Setelah saya pikir-pikir, penyebabnya sebelum berangkat saya gak kepikiran minum antimo dan gak bawa juga bekal yang cukup mengganjal perut. Selain itu saya duduk di bagian dalam kapal. Harusnya saya pilih dibagian atas yang udaranya lebih enakan. Tapi udah terlanjur, bagian atas udah penuh.  Udahlah saya cuma pengen cepet-cepet sampai, udah ga kuat abang wkwk. Tapi perjalanan 3 jam saudara-saudara, harus sabarr. Saya coba tidur biar ga kerasa lama perjalanannya, tapi ga bisa. Hadeuhhh

Suasana di dalam kapal


Jam 11 Akhirnya sampai juga. Kapal ga langsung merapat di dermaga pulau kelapa. Kami harus pindah ke kapal nelayan dulu untuk diantar ke dermaga. Rumah Homestaynya dekat dari dermaga. Pulau Kelapa sejatinya bukan pulau wisata tapi memang perkampungan penduduk. Katanya sih pulau terpadat penduduknya di Kepser. Saya lihat tidak ada pantainya. Pulau ini bersebelahan dengan Pulau Harapan, bahkan katanya terhubung dengan jembatan. Tapi saya nggak lihat dimana jembatannya.

Sampai di Homestay kami makan siang, lalu dilanjutkan menjuju spot snorekling. Dengan kapal nelayan, kami dibawa cukup jauh ke tengah laut ke arah utara.. Warna lautnya bagus, biru. Kalau menjelang daratan warnanya hijau.

Air lautnya bagus hehehe

Ternyata di tengah laut itu ada yang dasar lautnya dangkal dan itulah spot snoreklingnya. Sayangnya saya nggak pandai soal ginian, berenang & nyelem. Yaudah saya cuma sekedar nyebur aja di laut, mainan air haha.

Spot Snorkeling

Setelah Nyebur ke Laut
 Setelah puas, kami menuju Pulau Perak, Istirahat, jajan Pop Mie dulu. Bagus juga pulaunya. Pantai pasir putih. Air laut cukup bening dan warnanya kehijauan. Tapi ombaknya nggak seru, nggak kayak di pantai selatan. Ya memang sih ombak pantai utara kayak gitu, tenang udah kayak danau aja.
Pemandangannya itu cocok banget buat foto-foto. Sayangnya adek saya nggak ikut, jadi kurang puas saya foto-fotonya hahaha,

Di Pulau Perak
Sebelum meninggalkan Pulau Perak, kami ditawarkan oleh pemandu, mau ke tempat snorkling yang lebih dalam atau berkunjung ke pulau-pulau aja. Kami memilih ke pulau-pulau aja. Sebenernya tujuan selanjutnya adalah ke Pulau Gosong. Tapi uniknya, pulau itu kalo air laut sedang pasang, pulau itu tenggelam !. Dan saat itu pulaunya sedang tenggelam. Pulau itu memang hanya bentangan memanjang pasir putih aja.

Oke Pulau Gosong dicancel. Lanjut ke Pulau Dolphin, tapi gak jadi juga. Soalnya menurut para peserta rombongan, kurang menarik. Oke jadinya ke Pulau Bira Besar. Di Pulau Bira Besar juga gak terlalu lama karena rombongan cuma numpang ke toilet. Jiahhh capedee.

Pulau Bira Besar, Bersama Bapak
Yaudah abis itu selesai deh. Hari menjelang sore. Kami balik ke Pulau Kelapa. Sekitar Jam 5 sore sampai di homestay. Ini badan rasanya pengen mandi, tapi berhubung kamar mandinya cuma satu dan yang ngantri segambreng, jadinya yang bapak-bapak mandi seadanya di kran air di depan homestay hahaha. Yaudah saya ikut mandi disitu juga. Kurang puas sih mandinya, saya jadinya masih garuk-garuk badan. Ya mau gimana lagi, nanti besok pagi harus mandi dengan sebenar-benarnya hahaha.

Setelah makan malam, nggak ada kegiatan. Malam belum terlalu larut sebenarnya, tapi saya nguantukkkk banget. Sebenernya masih mau ada bakar-bakar ikan & jagung. Tapi biarinlah, ini mata udah berat banget. Eh pas udah nggletak, malah susah tidur. Pas udah pules, suka kebangun mulu. O iya, saya dan bapak-bapak yang lain ga tidur di kamar tapi nggelepar aja di ruang tamu, berhubung terlalu banyak peserta hehe.

19 Juni 2016

Setelah sarapan, kami kunjungan ke pulau-pulau lagi. Cuaca cerah, matahari terasa sangat panas. Pulau pertama adalah Pulau Bulat. Pulau ini katanya milik keluarga cendana. Terdapat rumah peristirahatan berbahan kayu. Kondisinya tak terawat. Suasana pulaunya sih sama aja. Pantai pasir putih, warna laut yang sama seperti itu, dan pohon-pohon yang banyak tumbuh di tengah pulau. Bedanya, pulau ini dikelilingi susunan batu pemecah ombak

Di Pulau Bulat

Pulau terakhir, Pulau Genteng Kecil. Ini Pulau wisata yang paling bagus menurut saya. Terdapat beberapa rumah penginapan, sampah daun dibersihkan oleh petugasnya. Cuaca sangat panas jadi cukup menyulitkan untuk berfoto-foto hahaha. Tapi ya untung ga ada bedanya sih, pantai pasir putih dan ombak yang tenang.


Ya pada akhirnya setelah berkunjung ke beberapa pulau, visual yang didapat sama saja. Kalau dikatakan secara ekstrem, membosankan, gitu-gitu aja. Jadi mungkin idealnya berkunjung ke dua pulau saja. Agar tidak sampai kepada titik bosan tersebut.

Kami kembali ke Homestay dan Jam 11 balik lagi ke Muara Angke. Karena udah dapet pengalaman waktu berangkat, saya langsung minum antimo, dan makan siang di kapal sebelum berangkat. Duduknya pun langsung pilih di atas. Eh udah persiapan gitu ternyata perjalanan lancar jaya. Ombak tenang banget. Saya benar-benar menikmati perjalanan pulang dengan tidur hehehe


Epilog:

Kembali ke daratan Jakarta pada Minggu sore adalah timing yang tidak tepat. Menjelang masuk Bekasi, macetnya jalanan sungguh bikin emosi. (Oke, ini epilog yang tidak penting hahaha)

[Continue reading...]

29 Juni 2016

Chord Killing Me Inside Feat Rocket Rockers - Menuju Cahaya

- 0 comments

F#                                  D#m
detik-detik waktu selaraskan jiwa
                         B 
sinari relung hati ini menuju ke cahaya
F#                           D#m
ku ada di sini bersama kalian
                              B                 C#
mencoba pertahankan diri lalui hari-hari
B
selalu bersama

F#                         Fm
oooh indahkanlah mimpi
D#m
tebarkan senyumanmu, kilaumu
B
hapus lelah dan semua duka

F#                                           D#m
angkatlah dagumu bila kau tak mampu
                            B
penat jiwa bohongimu seolah kau tak bisa
F#                                      D#m
ku masih di sini seperti kalian
                        B
mencoba berdiri tegar tak berhenti

F#                                 Fm
oooh indahkanlah mimpi
D#m
tebarkan senyumanmu, kilaumu
B
hapus lelah dan semua duka

F#                           Fm
oooh tetaplah berlari
D#m
jangan pernah berhenti
B
percaya semua kan indah di saatnya

C#-D#m                  B     
                takkan pernah ku lari tinggalkanmu
C#-D#m               B
                 meski ada saat kita berpisah
C#-D#m                   B
 ooo oh ooo janganlah menyerah pada mimpimu
C#                                       B
ku tahu takkan mudah tapi kau bisa
 
F#                 
(kita ada di sini bersama menghadapi
F#
dunia ini tak akan berhenti)
D#m             B                       F#
kita ada di sini bersama menghadapi
C#
dunia ini tak akan berhenti
D#m                     B                 F#
tak perlu kau sesali sakit yang kau lewati
                           Fm   
esok kan jadi hari yang terindah


sumber lirik: liriklaguindonesia.net
[Continue reading...]
 
Copyright © . Brian Prasetyawan's Blog - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger