Memuat...

22 September 2016

Jalan-Jalan Ke Bandung, Enaknya Menginap Disini Nih...

- 1 comments
Akhir-akhir ini saya sedang semangat-semangatnya membuat rencana liburan menginap di luar kota. Saya berpikir untuk ke kota yang tidak terlalu jauh dulu tapi yang punya destinasi wisata yang kece. Maka pilihan saya jatuh pada kota Bandung.


Menginapnya Dimana ?
Jauh-jauh hari merencanakan liburan ke luar kota seperti itu tentu perlu pertimbangan yang matang mengenai pilihan akomodasi dan destinasi wisata yang menarik di sekitarnya. Apalagi jika liburan itu dilaksanakan di akhir pekan,   pusat kota Banadung tapi berencana mengunjungi destinasi wisata Lembang. Kecuali tentu saja jika Anda memang berniat untuk tinggal beberapa hari menjelajah Bandung berikut suduut-sudutnya.
Jika waktu liburan terbatas seperti di akhir pekan, penginapan penginapan di pusat kota dengan kemudahan akses wisata tentu menjadi pertimbangan utama. Tapi penginapan mana ya yang strategis seperti itu ? Hotel Santika Bandung bisa menjadi pilihan karena mampu menjangkau dengan mudah beberapa ikon Bandung seperti Taman Tematik, Gedung Sate, dan Landmark Building yang berada di Braga.
Tak ketinggalan, tentu saja pusat perbelanjaan dan Factory Outlet yang merupakan kunjungan “wajib” di Kota Bandung yang terkenal sebagai kota fashion.


Sumber Gambar : santika.com
Jangan lupakan Jalan Riau ya! Terletak hanya sekitar 200m dari Hotel Santika Bandung, Anda akan menemui “surga” belanja yang menyuguhi pemandangan deretan outlet fashion. Factory Outlet Jalan Riau adalah salah satu FO populer di Bandung selain Factory Outlet di Jl. Dago dan juga FO Rumah Mode.
Gedung-gedung Factory Outlet di Jl. Riau ini memiliki  konsep yang unik yang bergaya Belanda dan Eropa tempo dulu. Duh, sepertinya cocok untuk spot foto yang akan dimasukkan instagram ya!
Jangan kaget kalau kalian akan kalap berbelanja di Jl. Riau karena prodouk fashion-nya sangat kekinian dari pakaian anak-anak hingga dewasa. Factory Outlet yang khusus menjual pakaian pria juga ada lho. Gedung yang memiliki jalan tembus dari satu Factory Outlet ke Factory Outlet lainnya seperti Cascade dan Heritage tentu memuaskan Anda untuk bisa berjalan lebih lama melihat-lihat koleksinya.
Sumber Gambar : doyanjalan.com
Jika kalian ingin membeli souvenir untuk oleh-oleh seperti dompet, tas, sabuk, dan aksesoris fashion lainnya, juga bisa didapatkan di Jl. Riau ini. Di salah satu sudutnya, yakni Terminal Tas, telah tersedia apa yang kalian cari.
Puas berbelanja di Jl. Riau, kalian bisa melangkahkan kaki ke pusat keramaian lainnya, yaitu Braga Citywalk. Eit, tapi masih sore nih.... 
Bagaimana kalau  mampir dulu ke Gedung Sate?
Ya siapapun tentu tahu gedung ikonik yang masih aktif digunakan oleh pemerintah kota Bandung ini. Gedung ini hanya berjarak tak lebih dari satu kilo dari Hotel Santika Bandung dan .
Sumber Gambar : santika.com
Desain dan arsitektur Gedung Sate jelas bergaya kuno karena dibangun pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Gedungnya yang khas bangunan Eropa terlihat kokoh dengan pondasi dan tiang-tiangnya yang besar.
Yang tak kalah penting dari Gedung Sate tentu saja adalah spot fotografinya. Desainnya yang indah dan juga area tamannya yang terawat dengan baik akan memberikan latar yang menawan saat kalian ingin selfie. Saya pun mau banget selfie disana tapi belum pernah kesampean hehe.
Makin Nggak Tahan untuk Selfie di Taman Tematik
Satu arah dengan komplek ini, tepat di Jl. Diponegoro kalian akan temukan spot cantik lainnya untuk fotografi yakni Taman Tematik.
Sumber Gambar : merdeka.com
Yang perlu diperhatikan saat mengunjungi taman ini, kalian tidak diijinkan membawa makanan, minuman, ataupun hewan peliharaan. Sepertinya ini demi menjaga kebersihan dan keindahan tamannya karena di taman ini ada berbagai macam tanaman bunga yang ditata dengan begitu indah dan sangat rapi yang harus dijaga. Kalian dapat melihat deratan bebungaan seperti anggrek, kalanchoe, bougenville, dan lain sebagainya.
Nah, puas mengunjungi seputar Gedung Sate? Tentu asyik menghabiskan malam di Jl. Braga lanjut Jl. Asia-Afrika. Selain Braga Citywalk, ada masjid agung Bandung dan juga alun-alunnya lho!
Bagaimana jika sebelum kembai ke hotel kalian mencicipi kuliner yang tersebar di jalan-jalan Bandung? Setelah puas dan kenyang, kalian tentu akan membayangkan disambut oleh ranjang yang empuk dan bersih seperti yang disedikan oleh Hotel Santika Bandung. Anda akan segera beristirahat nyaman hingga keesokan harinya menyadarkan bahwa kalian harus segera pulang dan kembali kepada rutinitas kerja.
[Continue reading...]

20 September 2016

Dua Halaman yang Tak Biasa

- 0 comments
Suatu hari di bulan Mei, sebuah notifikasi pesan muncul di facebook saya. Dengan perasaan yang biasa saja, saya mengklik dan melihat pesan tersebut. Nah perasaan yang luar biasa muncul seketika setelah saya baca pesan itu. Weh.. emang pesan dari siapa sih ? isinya apa sih ?

Bukan.. bukan dari gebetan kok . Mantan ? Bukan jugaaa !! -_-.

Malah ini pesan dari bapak-bapak. Pak Budi namanya. Sebenarnya saya nggak kenal dengan beliau. Dahulu, saya iseng aja ngeprove permintaan teman dia. Mungkin dia salah satu pengunjung blog saya. Eh... sekarang dia send an amazing message.
 
Garis besar isi pesan itu adalah  dia sedang membantu istrinya untuk membuat buku yang mengulas jurusan kuliah. Berkaitan dengan itu, maka beliau minta waktu untuk mewawancarai saya. WHAT ?! NGGAK SALAH NIH ?! Saya nggak salah denger ?! Atau Bapak nggak salah pilih narasumber ?! hahahaha

Tanpa ragu, tentu saja saya mau diinterview. Ternyata beliau menghubungi saya karena latar pendidikan saya yang PGSD. Beliau perlu sharing pengalaman dari lulusan PGSD dan teringatlah salah satu teman FBnya yang lulusan PGSD yaitu saya hehe

Malam itu, saya bersiap menerima panggilan telepon. Yak... siapa lagi kalau bukan telepon dari Pak Budi hehehe.... Saya ditanya segala hal tentang perkuliahan pgsd dan pekerjaan yang sekarang saya lakukan. Setelah kurang lebih satu jam, wawancara selesai. Katanya kira-kira bulan Juli bukunya terbit. 

***

Suatu hari di akhir Juli. Lagi-lagi saya sedang iseng buka FB dan munculah di timeline postingan Pak Budi. Postingan itu berupa video istrinya yang sedang mengenalkan bukunya yang baru terbit, "Majors The Future".



WAHH..... ternyata bukunya udah terbit ! Besoknya, setelah pulang kerja saya mampir ke Gramedia. Meskipun mesti nguras kantong sendiri, saya nggak pikir panjang untuk beli itu buku demi melihat hasil wawancara saya.

Saya kira pernyataan-pernyataan saya hanya dimuat secuplik-secuplik saja. Eh Nggak Nyangka... ternyata malah dua halaman ditambah foto dan juga nama saya ditulis besar-besar. Ternyata hasil wawancara itu untuk mengisi halaman profil. Duh... jadi ga enak. Saya kan mah apa atuh. Sebenernya cuma lulusan PGSD biasa. Tapi ditampilkannya kok seakan kayak sosok inspiratif gitu.


Setelah saya membacanya, saya makin nggak enak. Saya merasa pernyataan-pernyataan saya belum terlalu kuat untuk menginspirasi pembaca. Kalau dilihat, sosok-sosok lain yang juga mengisi halaman profil terlihat lebih meyakinkan dari segi pengalaman yang mereka share.

Hal itu membuat perasaan saya kurang spektakuler menyambut tertulisnya nama saya untuk pertama kalinya di sebuah buku. Tapi ya sudah... tetap bersyukur. Bagaimana pun juga ini torehan sejarah baru dalam kehidupan saya. 
[Continue reading...]

18 September 2016

Temu Akbar Misdinar Se- Bekasi (Proakolit) 2016

- 2 comments

Nggak terasa, udah 9 tahun sejak paroki saya (St. Servatius) pertama kali menjadi tuan rumah Proakolit. Dan Tahun ini paroki saya kembali menjadi tuan rumah proakolit untuk kedua kalinya.
FYI, Proakolit adalah acara dimana misdinar dari 9 gereja katolik Se- Bekasi bertemu. Misdinar sendiri adalah anak muda (usia 10-16 tahun) yang membantu Pastur saat melaksanakan misa. Acara utama  Proakolit berupa lomba-lomba liturgi seperti baca kitab suci, menyanyi mazmur, cerdas cermat liturgi, vokal grup, dan lainnya.

PERSIAPAN PROAKOLIT

Saya memang sudah bukan misdinar aktif. Saya statusnya mantan misdinar tapi masih lumayan care sama misdinar. Saya dan teman-teman sangat antusias saat merencanakan acara ini. Sejak Proakolit 2012, para tuan rumah saling berlomba untuk menyuguhkan acara yang "Wah" dan banyak inovasi. Melihat hal itu, maka kami berkali-kali ketemuan dan saling memberi ide inovatif untuk konsep acaranya. Padahal waktu itu belum dibentuk kepanitiaannya. Mendengar ide-ide yang bermunculan, kami semakin bersemangat dan yakin kalau acaranya nggak kalah sama proakolit tahun-tahun sebelumnya.

Menjelang penentuan ketua panitia, saya deg-degan. Soalnya, saya dipilih dari pengurus misdinar menjadi salah satu calon ketua Proakolit ! Wadohhhhh !! Gila ini !! Jujur aja, saya merasa bukan sosok yang cocok untuk memegang acara sebesar ini. Tapi keputusan tidak bisa diubah. Saya bersama tiga teman saya (Adri, Mario, Veni) fix menjadi calon ketua Proakolit.

Waktu itu hari Minggu 30 Agustus 2015. Ketua proakolit dipilih oleh para misdinar dan kakak-kakak mantan misdinar yang turut hadir. Saya dan calon lainnya menyampaikan ide inovatif untuk proakolit dan menjawab pertanyaan dari beberapa misdinar. Hingga akhirnya berdasarkan penghitungan suara, terpilihlah ketua Proakolit yaitu....
.
.
.
MARIO !!!
Yessss !! saya slamet !!! hahaha

Selanjutnya, di kepanitiaan ini saya sebagai humas bersama Tasya. Dengan bergabung di kepanitiaan ini, pengalaman berorganisasi saya jadi bertambah. Ini juga pertama kalinya saya ikut panitia proakolit. Saat Proakolit pertama saya hanya sebagai peserta lombanya saja.

Seperti biasa, kalau menjadi panitia acara besar, salah satu yang berkesan adalah saat pencarian dananya. Saya dan teman melakukan berbagai hal untuk pencarian dana. Mulai dari jualan makanan, jadi penjaga parkir saat misa, hingga menjual barang bekas.

Jualan Makanan
Kadang yang nyesek adalah saat menjual barang bekas. Kami kerja keras angkutin dari rumah umat, nyortir, sampe bawain itu barang bekas ke pengepul. Saya kira akan dapat banyak. Ternyata hanya menghasilkan dua-tiga lembaran "merah". Tapi gak papa, justru jual barang bekas makin menambah kekompakan dan melatih komitmen panitia

Bergumul dengan barang bekas

HARI - H

Nah akhirnya tiba pada hari pelaksanaan Proakolit. Acara dilaksanakan dua kali. Pertama tanggal 7 Agustus 2016, khusus untuk lomba futsal. Paroki Mikael dan Bartolomeus yang masuk final. Sedangkan St. Servatius sudah kalah di pertandingan pertama.

Hari puncak acara Proakolit pada 14 Agustus 2016. Kurang lebih 500 orang dari 9 paroki datang ke SMA Pangudi Luhur II Servasius. Acara diawali dengan misa di Aula SMA PL II, lalu peserta lomba liturgi masuk ke ruang-ruang kelas dan tempat lomba yang sudah ditentukan. Lomba futsal juga diadakan.

Peserta Proakolit 2016
Beberapa part yang seru menurut saya adalah saat seluruh peserta proakolit nyanyi bersama guest star yaitu dua frater muda. Lalu saat seluruh peserta proakolit joget bareng sampai pada naik ke panggung saat misdinar St. Servatius melakukan performance dance dan salah satu backsoundnya adalah musik ge mu famire. Terakhir yaitu saat terbangnya drone, peserta sangat hectic melihat drone di atas mereka dan kemudian mereka semua saling adu suara menyanyikan yel-yel parokinya masing-masing.

Secara keseluruhan, acara proakolit ini berjalan lancar dan sukses. Bahkan menurut saya ada beberapa hal yang membuat Proakolit tahun ini lebih unggul dibanding tahun-tahun sebelumnya. Itu terlihat dari beberapa hal yang baru pertama kali ada di Proakolit yaitu:
- Lomba Short Movie
- Publikasi melalui website
- Penggunaan bel listrik pada lomba cerdas cermat liturgi
- Photobooth Profesional
- Dokumentasi menggunakan drone
- Live Info: setiap acara yang sedang berlangsung diinfokan via layar proyektor dan berbagai info juga ditayangkan dengan ilustrasi yang menarik.
- Publikasi promosi acara menggunakan video teaser
- Peserta yang masuk area acara dipasang gelang yang ikonik

Dari beberapa hal baru tersebut, yang paling istimewa adalah film dokumentasi acara tanggal 14 yang langsung ditayangkan saat tanggal 14 itu juga ! Saya sendiri kagum betapa gercepnya tim pubikasi. Biasanya kan film dokumentasi acara gitu kan baru tayang beberapa hari setelah acara karena perlu waktu untuk editing dan render.

Acara pun selesai saat menjelang magrib dengan hasil Paroki St. Bartolomeus sebagai juara umum. Memang sih mereka pantas juara. Saya melihat mereka begitu kompak, semangat dan antusias. Sedangkan paroki saya kalau nggak salah dapet 4 piala.

Selamat untuk St. Bartolomeus dan sampai jumpa di Paroki St. Mikael tahun 2017

Panitia Proakolit 2016
[Continue reading...]

17 September 2016

Pendidikan Berbasis Minat dan Bakat Anak

- 4 comments
 Sekarang ini pemikiran-pemikiran modern tentang pendidikan banyak bermunculan. Contohnya seperti pemberian sangsi kepada anak oleh guru yang lebih mendidik, pembelajaran di SD yang seharusnya tidak berfokus pada kognitif tapi lebih menekankan pada pembinaan karakter, bahkan yang terbaru adalah gagasan tentang tidak diperlukannya pemberian PR kepada siswa, serta yang fenomenal dan kontroversial adalah gagasan full day school oleh Menteri Muhadjir Effendy.

Dari sekian banyak pemikiran tersebut saya lebih tertarik membahas tentang pendidikan berbasis minat dan bakat anak. Pemikiran ini juga bukan hal baru. Sudah sering kita mendengar bahwa bakat anak berbeda-beda sehingga jangan menjudge anak yang tidak pandai matematika itu, bodoh secara keseluruhan. Bisa saja kemampuannya ada dibidang lain. Namun pentingnya minat dan bakat anak ini sepertinya gaungnya belum terlalu keras. Pengembangan minat dan bakat anak baru sebatas anjuran yang sebaiknya dilakukan orang tua dan guru. Tentu hal itu akan berdampak kurang signifikan. Hanya orang tua dan guru yang menyadarinya saja yang akan melakukannya.

Berbeda jika kita bandingkan dengan pendidikan di Finlandia. Sudah bukan hal baru jika negara itu menjadi panutan menjalankan sistem pendidikan yang baik (walaupun sekarang predikat negara dengan sistem pendidikan terbaik bukan lagi milik Finlandia). Sayangnya, yang lebih sering dibahas kebanyakan orang dari sistem pendidikan di Finlandia adalah tentang tidak adanya PR, tidak adanya ujian nasional, dan waktu belajar yang tidak lama (5 jam).

Padahal satu hal lagi yang luput dari perhatian adalah mutu sekolah di Finlandia semuanya sama. Tidak ada namanya sekolah unggulan atau sekolah favorit. Kalau di Indonesia kan ada sekolah nasional, nasional plus, SSN, dan pernah ada juga RSBI. Hal yang membedakan dari tiap sekolah di Finlandia adalah bahasa asing dan kegiatan olahraganya. Jadi orang tua dapat memilih sekolah yang sesuai dengan bakat olahraga siswa. Pada pembahasan ini kegiatan olahraga tersebut saya asumsikan sebagai kegiatan ekstrakurikuler (ekskul).

Di Indonesia sekarang ini, wadah untuk menyalurkan bakat anak adalah kegiatan ekskul. Dan ekskul itu kadang-kadang dipandang sebelah mata, hanya untuk formalitas. Tak jarang siswa memilih ekskulnya secara asal-asalan

Nah... kini masuk pada inti pembahasan saya. Saya berpikir agar pemerintah mengikuti Finlandia yaitu mengharuskan tiap sekolah memiliki spesialisasi ekskul. Dengan demikian, Orang tua dapat memilih sekolah yang memiliki ekskul unggulan sesuai minat dan bakat anak. Spesialisasi ekskul bukan berarti sekolah itu hanya mengadakan satu ekskul saja. Sekolah juga tetap mengadakan ekskul lainnya, namun ada satu ekskul yang diunggulkan baik dari segi fasilitas, pengajarnya, hingga prestasinya.



Hal ini akan berjalan efektif jika orang tua atau sang anak memang sudah tahu apa minat/bakatnya. Bagaimana bagi mereka yang belum tahu minat/bakatnya ? Untuk masalah itu, maka sekolah wajib melakukan tes bakat. Dari situ, pihak sekolah dapat mengarahkan ekskul yang tepat untuk siswa.
Jadi idealnya, setiap siswa wajib mengikuti ekskul.

Untuk mendukung ini semua, pemerintah juga harus menyediakan anggaran untuk pengadaan fasilitas ekskul dan honor pengajar ekskul ditiap sekolah. Selain itu pemerintah juga sebaiknya memiliki database tentang SDM yang kompeten dibidangnya yang bisa menjadi rekomendasi sekolah untuk merekrutnya menjadi pengajar ekskul.

Pada akhirnya, ekskul yang diikuti anak bukan lagi sebagai formalitas. Namun juga merupakan hal penting dan hal serius yang dilakukan siswa sebagai bagian dari pelaksanaan pendidikan di sekolah.

Mengapa pendidikan berbasis minat dan bakat penting ?

Ya... dari tadi saya panjang lebar membahas pemikiran tentang pendidikan berbasis minat dan bakat. Memang apa pentingnya ?

Mengetahui bakat/minat itu penting bagi kehidupan seseorang di masa depan. Sama pentingnya dengan kemampuan matematika yang lebih sering diagung-agungkan oleh kebanyakan orang. Menyadari minat/bakat terlihat tidak terlalu berpengaruh di masa SD sampai SMA. Namun diakhir masa SMA, barulah akan terasa pentingnya minat/bakat. Di masa itu, siswa harus menentukan pilihan jurusan kuliahnya. Nah disaat itulah tak sedikit para lulusan SMA yang bingung memilih jurusan kuliah. Jika sudah tahu minat/bakatnya tentu menentukan pilihan tersebut tidaklah susah.

Lebih jauh lagi, di jaman sekarang ini, kecerdasan intelektual tidak menjadi satu-satunya tolak ukur keberhasilan orang bersaing, khususnya di dunia kerja. Tidak sedikit yang menganggap softskill lebih penting. Ketekunan menggeluti bidang minat/bakat kita akan mendukung berkembangnya softskill.  Sehingga seseorang akan memiliki keunikan dibanding individu yang lain dan itu akan membantu dalam melewati berbagai persaingan di kehidupan ini.

sumber gambar: google.com dengan sedikit perubahan
[Continue reading...]

20 Agustus 2016

Perpustakaan Tak Aktif, Pojok Baca Kelas pun Jadi.

- 6 comments
"Yah pak....!! baru juga baca sebentar !".

Teriakan kekecewaan yang terdengar menyenangkan bagi saya. Lho gimana sih ? Murid kecewa kok malah seneng ? Tidak. Saya tidak aneh kok hehe. Saya seneng karena berarti mereka benar-benar memiliki ketertarikan dan minat baca buku yang cukup tinggi. Kalo tidak tertarik, tentu mereka akan biasa saja ketika saya menghentikan waktu membaca. Saya sebenernya juga nggak rela membatasi kesempatan membaca mereka. Tapi kalo sudah saatnya pulang ya mau ga mau harus dihentikan.

Minat baca yang tinggi seperti itu harusnya tidak hanya berlaku pada anak SD saja tapi juga kalangan remaja dan orang dewasa. Saya sebagai penyuka buku, cukup gregetan ketika bertahun-tahun fakta yang selalu beredar adalah minat baca orang Indonesia rendah. Maka saya ingin sekali menularkan virus minat baca ke orang lain. Tapi kalo kepada teman-teman sebaya sepertinya sulit. Karena mereka sepertinya sudah punya ketertarikan lain dibanding membaca.

Nah..... Profesi saya sebagai guru sangat strategis untuk mendorong minat baca anak-anak. Dengan wewenang yang saya miliki sebagai guru, saya bisa mengarahkan kegiatan yang mendorong kebiasaan membaca.

Ketika mengawali kiprah di sebuah SDN di Jakarta Pusat, saya cukup prihatin dengan perpustakaannya. Jumlah bukunya sih cukup memadai. Namun luas ruangannya kurang ideal dan ternyata tidak ada petugas perpusnya. Aktivitas literasi pun menjadi tak terlihat. Kalau seperti itu kondisinya akan sulit mengarahkan siswa agar terbiasa membaca.

Maka saya berpikir, bagaimana caranya agar budaya membaca tetap terwujud. Akhirnya saya memulainya  dari kelas saya dahulu. Saat itu saya mengajar kelas 2. Saya coba bawa beberapa  buku dari perpustakaan ke kelas. Setelah saya perhatikan, ternyata murid-murid tersebut punya minat baca yang tinggi. Terbukti mereka antusias ketika saya persilahkan baca buku.



 Namun kebiasaan membaca belum berjalan ideal. Waktu belajar yang pendek tidak memungkinkan menyelipkan waktu khusus untuk membaca di setiap hari. Maka saya hanya menjadwalkan waktu membaca setiap hari Selasa, menjelang pulang sekolah. Penempatan buku-buku pun hanya ditumpuk saja. Saya sebenernya juga ingin menata buku-buku itu, agar di kelas terdapat pojok baca yang permanen. Tapi keterbatasan tempat, membuatnya tidak memungkinkan.

Saya juga cukup sulit menemukan buku dari perpus yang benar-benar pas untuk murid. Ada yang terlalu banyak tulisan dan tidak berwarna, ada yang kontennya terlalu berat untuk anak. Sebagian anak pun jadinya hanya membuka-buka halaman sebentar lalu mengembalikannya lagi. Akhirnya saya membelikan 6 buku cerita, kebetulan ada cuci gudang buku anak di gramedia pondok gede hehehe. Memang hanya sedikit sih tapi, setidaknya buku yang benar-benar dibaca murid bertambah.

Nah.... sekarang ini barulah kebiasaan membaca di kelas saya berjalan cukup ideal. Kini saya mengajar kelas 3. Di belakang kelas terdapat meja besar yang memungkinkan untuk meletakkan buku lebih leluasa, sehingga terwujudlah pojok baca di kelas. Frekuensi kesempatan membaca pun menjadi setiap hari. Sistem yang diterapkan adalah siswa yang sudah selesai mengerjakan soal latihan boleh baca buku. Melihat antusiasme yang begitu tinggi saya juga semangat untuk membeli buku lagi dan meminjam dari perpus gereja hehe.


Perpus gereja sudah vakum dan buku-bukunya terbengkalai. Sayang kan. Yaudah mending saya pinjem aja untuk murid saya hehehe. Kini terdapat 48 buku dan semuanya sudah sesuai dan menarik untuk anak.
 Walaupun kegiatan membaca ini sudah berlangsung berminggu-minggu, antusiasme mereka tak surut. Bahkan ketika saya lupa mempersilakan mereka baca buku, salah satu murid bertanya:

"Pak boleh baca buku nggak ?"

Kebiasaan membaca yang telah berjalan itu, mulai memperlihatkan hasilnya. Saat itu pelajaran bahasa Indonesia membahas tentang watak tokoh dalam sebuah cerita. Saya pun mengambil secara random salah satu buku cerita sebagai bahan untuk membahas watak tokoh bersama murid. Tak disangka, banyak diantara mereka yang menanggapinya dengan menyebutkan tokoh-tokoh dan jalan ceritanya. Gurunya saja belum tau isi ceritanya hahaha. Itu membuktikan bahwa saat diberikan kesempatan membaca, mereka benar-benar membacanya hingga ceritanya pun masih melekat diingatannya. Sungguh momen yang menyenangkan. Saya dan murid seperti anggota klub buku yang sedang membedah sebuah buku.

Jadi.... sebenarnya minat baca orang Indonesia bisa saja tinggi jika sejak dini telah di fasilitasi buku yang memadai. Dari kebiasaan membaca sejak dini, diharapkan minat baca tetap terjaga sampai dewasa nanti.
[Continue reading...]

19 Agustus 2016

Bukan Pulpen Biasa

- 0 comments
(Jam istirahat, saya mau keluar kelas dan masih ada beberapa murid di dalam kelas)

Murid A: "Pak... tunggu dulu" (berdiri dari tempat duduknya)

Saya: (sambil berjalan keluar kelas) "Kenapa ??"
Murid A, B, C: (agak berlari ke arah saya) "Tunggu  pak"
Saya: (berhenti di lorong depan kelas) "Ada apa sih ?"
Murid A, B, C: "Ini pak untuk bapak" (masing-masing memberikan satu pulpen kepada saya)
Saya: "Lho..... Untuk bapak ?
Murid A, B, C: Iya paakkk...
Saya: Dalam rangka apa ini ? bapak nggak ulang tahun kok " (sambil senyum-senyum)
Murid: Nggak papa pak.... Ya untuk bapak aja. Rasa terimakasih.
Saya: "Oh.... iya yaudah.. trimakasih ya"
Murid A, B, C: Iya pak.... (sambil agak berlari kembali ke dalam kelas)
Bagi anda, khususnya guru muda, Kejadian di atas mungkin sudah sering dialami dan mungkin juga terkesan biasa saja. Tapi tidak bagi saya. Karena pada dasarnya saya merasa sebagai guru yang biasa saja. Baik dalam hal cara mengajar maupun kedekatan dengan murid. Sehingga saya sangat jarang mengalami hal itu dan saya pun tidak terlalu berharap murid akan seperti itu. Walaupun sebenarnya saya juga mau mendapat perlakuan seperti itu dari murid. Apalagi kalau lihat post temen-temen pgsd/cpns guru di medsos, saat mereka mendapat perhatian dari murid. Makin pengen juga digituin hehe.

Memang hanya tiga buah pulpen hitam biasa. Namun bukan itu poinnya. Ada hal yang lebih bernilai, yang bisa dianalisis dari kejadian itu. Kepekaan, Inisiatif, dan Perhatian (mungkin ada nilai-nilai lainnya). Maka, saya pun senang dan mengapresiasi tindakan tiga murid perempuan itu. Karena ketiga nilai yang melatarinya itu membuat saya merasa tindakan mereka begitu "mahal". Hal lain yang membuatnya "mahal" adalah..... Kejadian ini tidak dilatari event apapun seperti hari guru, ultah saya, atau perpisahan. Nggak ada hujan nggak ada angin, eh tau-tau tiga anak itu kasih pulpen ke saya. Kalau memberi sesuatu saya pas ada event, bisa saja karena memang tradisi atau ikut-ikutan teman.

Lebih lanjut, kejadian itu membuat saya makin bersyukur menjadi guru dan juga makin menguatkan saya. Karena selama ini tidak jarang saya suka menyalahi diri sendiri karena merasa belum menjadi guru yang ideal.

Jika dianalisis lagi, ini merupakan indikator bahwa murid telah dengan terbuka "menerima saya". Indikator itu perlu bagi saya agar lebih percaya diri dan mengurangi kebiasaan saya menyalahi diri sendiri dalam kaitannya sebagai guru.

Pada akhirnya dengan adanya kejadian itu, saya berharap itu merupakan tanda bahwa mereka datang ke sekolah untuk belajar dengan niat dari kesadaran sendiri bahwa mereka butuh belajar. Bukan karena terpaksa menjalani rutinitas sehari-hari

NB: Saya menulis postingan ini murni sebagai ungkapan syukur. Bukan bermaksud lebay lho ya hehe.

[Continue reading...]

Komentar Terbaru

 
Copyright © . Brian Prasetyawan's Blog - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger