30 April 2017

Pengalaman Pertama Ke Grhatama Pustaka

- 10 comments


Setelah saya pulang kampung ke Jogja akhir tahun lalu saya membuat dua postingan. Tapi ada satu kepingan cerita lagi yang belum diposting. Maap ya pemirsa... baru posting sekarang hehe. Ini nggak lepas dari kebiasaan kurang bagus saya yang sukanya menumpuk ide posting di draft blog saja. Semoga besok-besok nggak begini lagi deh.

Baca Juga: Bukit Parang Endog: Menikmati Parangtritis dengan Cara yang Berbeda

Oke langsung saja....

Jadi saat hari terakhir di Jogja (28/12), saya masih punya satu agenda lagi yaitu wisata pustaka. Pertama saya ke Grhatama Pustaka. Tahu kan tempat apa itu ? Yup... itu salah satu perpustakaan terbesar di Indonesia. Katanya sih terbesar se-Asia Tenggara tapi saya agak kurang setuju dengan pendapat itu.

Baca Juga: Perpustakaan Terbesar di Indonesia: UI atau Grhatama ?

Saya belum pernah ke Grhatama, jadi tentu saja saya mengandalkan google maps untuk sampai ke sana. Nggak susah kok menemukan Grhatama. Lokasinya persis di pinggir Jalan Janti, jadi pasti langsung ketemu (Nggak kayak perpus kota Bekasi yang letaknya tersembunyi #ehmaap #keceplosan). O iya, saya kesana nggak sendiri. Ada teman saya, Elok. Niatnya biar dia jadi tour guide saya gitu. Tapi ternyata katanya belum pernah masuk ke Grhatama juga. Cuma pernah sampai di lobinya aja. Hahaha jiahh cape deh.

Pertama kali melihat Grhatama dari depan jalan, saya merasa kok sepi ya. Mungkin karena gedungnya menempati area lahan yang begitu luas. Jadi keramaiannya belum terasa di luar perpus. Saya kemudian masuk dan mencari tempat parkir motor. Papan petunjuk menuju area parkir cukup jelas sehingga saya tidak kebingungan.

Setelah itu saya masuk ke gedungnya. Ternyata Elok sudah duduk menunggu di lobi. Sebelum masuk lebih jauh, pertama-tama kita mengisi daftar pengunjung dulu pakai PC yang sudah tersedia. Lalu kita diberi kunci loker. Setelah menaruh tas di loker, kami jalan-jalan dulu muterin gedung yang terdiri dari 3 lantai ini.

Lobi Grhatama

Saya penasaran isinya apa aja sih. Ukuran gedungnya yang besar memang berbanding lurus dengan lengkapnya fasilitas yang ada. Pertama saya kelilingi lantai 2. Di lantai ini ruang koleksi buku umum berada (saya menyebutnya ruang koleksi utama). Selain itu ada ruang koleksi braile. Selanjutnya di lantai 3. Saya menyimpulkan bahwa lantai ini berisi ruangan-ruangan koleksi khusus/terbatas seperti skripsi, peraturan perundangan, buku langka, koleksi digital, tandon, dll. Selain itu ada juga ruang audio visual. Kemudian saya turun ke lantai 1. Saya menyimpulkan kalau lantai ini untuk area anak-anak.

Suasana di dalam gedung

Landmarknya Grhatama

Kami kembali ke lantai 2 dan menuju ruang koleksi utama. Sebelum masuk, pengunjung harus melepas alas kaki dan memasukkannya ke dalam tas khusus alas kaki. Tidak ada penitipan. Jadi kita harus membawa-bawanya selama di dalam ruangan. Sebenarnya saya ke Grhatama bukan buat nyari dan baca buku sih hehehe. Saya memang mau melepaskan rasa penasaran terhadap perpus ini. Maka saya puter-puterin aja ruangan itu, lihat-lihat buku.  Kalo Elok, dia nemu bukunya Seno Gumira Ajidarma. Yaudah anteng deh dia haha

Di dalamnya ada Ruang Terbuka Hijau
Kalau boleh jujur sih sebenarnya ruang koleksi utama itu masih dibawah ekspetasi saya.
Dengan gedung yang sebesar itu, saya kira ruang koleksi utamanya bakal luas banget dan berharap bakal banyak buku-buku kesukaan saya. Namun saya hanya menemukan beberapa buku yang menarik buat saya. Entah... mungkin juga saya mencarinya kurang giat. Ya semoga saja pihak Grhatama senantiasa menambah dan mengupdate koleksi-koleksinya.

Ruang Koleksi Utama
Bagaimana pun juga saya sangat mengapresiasi pemerintah Jogja yang begitu niat membangun perpustakaan segede itu. Karena masih jarang pemerintah daerah yang melakukan gebrakan di dunia perpustakaan. Grhatama pun akhirnya tidak sekedar menjadi perpustakaan biasa. Namun bisa menjadi destinasi alternatif saat liburan ke Jogja. Gedungnya yang ikonik juga cocok untuk foto-foto hehe.

Lanjut Ke Shopping Center

Agenda selanjutnya adalah belanja buku di Shopping Center Taman Pintar. Ini kedua kalinya saya ke tempat belanja buku yang memiliki ratusan kios ini. Pengalaman pertama kesana, saya membeli buku-buku yang saya pilih secara random. Karena buku-buku yang masuk list saya kebanyakan tidak ada disana.

Baca Juga: Explore Jogja (4)

Nah di kunjungan kedua ini, saya berharap akan mendapat buku keinginan saya yang sudah susah dicari di toko buku. Namun yang bisa saya dapat adalah buku-buku yang mainstream beredar di toko buku. Saya jadi punya kesimpulan. Walaupun ada ratusan kios tapi kayaknya buku yang dijual hampir sama semua. Jadi kalo buku yang dicari nggak ada di salah satu kios, maka kemungkinan di kios lainnya juga nggak ada. Ya semoga saja kesimpulan saya itu salah.

Hasil Berburu di Shopping Center. Mainstream sekali

Nah akhirnya selesai juga misi wisata pustaka saat hari terakhir saya di Jogja. Sebelum saya lanjut pulang, saya mampir dulu beli coklat khas Jogja yaitu Coklat Monggo. Katanya coklat ini udah ada sejak 2005. Mungkin kalian udah pada tahu ya ?? Tapi saya baru tahu tuh ckckck....... ketinggalan jaman banget. Lokasi tokonya agak di dalam perkampungan di kawasan Kotagede. Untuk sampai kesana harus melewati jalan-jalan kecil. Untung saya bisa langsung nemu tokonya, nggak pake nyasar hehe. Varian coklatnya cukup beragam, membuat saya bingung mau beli yang mana. Pengennya sih mau beli satu-satu tiap variannya. Tapi apa daya budget tak mendukung. Harus bisa nahan kalap hihihi.




Yak itulah sekeping cerita yang tertinggal dari pengalaman saya pulang kampung akhir tahun lalu. Sebenarnya masih banyak destinasi anti mainstream di Jogja. Misalkan di Gunung Kidul. Saya sama sekali belum pernah kesana. Semoga ada kesempatan lain untuk kesana.

Bagaimana dengan kalian ? Adakah pengalaman wisata mengesankan di Jogja ?

sumber gambar: dok. pribadi & bpad.jogjaprov.go.id
[Continue reading...]

24 April 2017

Anak SD Ngeblog, Kenapa Tidak ?

- 14 comments


Entah berapa tahun yang lalu, saya seperti biasa sedang blogwalking. Kemudian saya terdampar di blognya Pak Bukik. Beliau pernah jadi dosen dan berkontribusi di berbagai website. Salah satunya yang terkenal adalah inibudi.org. Kini beliau sedang aktif di Kampus Guru Cikal dan Komunitas Guru Belajar. Dalam blognya tersebut, Pak Bukik juga kerap bercerita tentang anaknya, Ayunda Damai. Waktu itu Damai masih SD kelas 4 kayaknya. Nah... di salah satu artikelya, pada nama anaknya terdapat link dan terhubung ke ayundadamai.com. Lalu terbukalah blog pribadinya Damai. Whattt ??? anak kelas 4 SD punya blog ??!!. Dan perhatikan domainnya ! Dot Com saudara-saudara ! Nggak berhenti sampai disitu. Setelah melihat halaman about me nya, ternyata dia ngeblog dari umur 7 tahun !! So Amazing !

Bener-bener saya surprise banget menemukan blog yang usia pemiliknya masih cukup dini untuk ngeblog. Karena masih anak-anak, saya kira dia jarang-jarang update dan mungkin postingan terakhirnya beberapa bulan yang lalu. Tapi ternyata tidak. Setelah saya lihat-lihat, Damai cukup rajin mengupdate blognya. Bahkan, setelah memperhatikan arsip blognya, Selalu ada postingan di setiap bulannya sejak pertama kali ia ngeblog pada Agustus 2012.

Setelah menemukan blognya Pak Bukik dan anaknya, saya temukan juga blog mamanya Damai. Namanya Bu Wiwin dan alamat blognya wiwinhendriani.com. Oke... Jadi itu bapak, emak, sama anaknya ngeblog semua. Dan semua blog mereka selalu update. Bener-bener bikin envy. 😆


Blognya Damai, Bu Wiwin dan Pak Bukik 


Bapak sama anak komen-komenan di blog. ini juga bikn envy 😆


Kenapa Damai Mau Ngeblog Sejak SD ?   

Itu pertanyaan yang langsung terlintas dipikiran saya. Pertanyaannya memang bukan bisa atau tidak bisa. Karena di era teknologi saat ini, anak SD sudah paham gadget dan internet. Jika diajarkan, pasti ngeblog pun juga bisa. Setidaknya bisa untuk sekedar memposting tulisan. Nah Kalau soal mau dan tidak mau, cukup jarang ada anak yang mau ngeblog. Namun Damai terlihat menikmati ngeblog. Buktinya ia konsisten update blog. Postingannya pun juga bukan sekedar seperti update status nggak jelas, tapi bener-bener menceritakan sesuatu dan berbobot.

Setelah berselancar di blognya Damai, saya menemukan satu postingan yang isinya menceritakan alasan kenapa Damai suka ngeblog. Berikut ini petikan tulisannya di postingan tersebut.

Aku suka nge-Blog karena nge-blog itu seperti bercerita di hadapan banyak orang. Tapi kalau ngeblog itu dibaca bukan didengar. Bedanya lagi, orang yang menulis atau yang membuat cerita itu tidak terlihat langsung di hadapan banyak orang. Jadi intinya nge-blog itu membuatku bisa bercerita tanpa membuatku merasa malu 😀 
Selain itu kalau nge-blog, ceritaku bisa dikomentari dan disukai orang lain yang berkunjung ke blogku. Lalu aku bisa mengobrol dan bisa menjadikannya teman. Aku juga bisa menunjukkan video-video pianoku di blog
Menurut saya ini adalah keberhasilan  Pak Bukik dan Bu Wiwin sebagai orang tua. Diawali dengan memberi teladan yaitu mereka sudah ngeblog terlebih dahulu, sehingga Damai juga mau ikut-ikutan ngeblog. Kemudian mereka juga mengajarkan, mengarahkan, dan membantu Damai saat ngeblog. Bu Wiwin pernah memposting tentang bagaimana perannya sebagai orang tua dalam membantu Damai mengelola blog. Silakan lihat disini jika ingin melihat postingan tersebut.

Bukan Hanya Damai Saja

Dari blognya Damai, saya menemukan bahwa ada juga beberapa anak seusianya yang juga memiliki blog. Saya kemudian searching di google mengenai blog anak. Ternyata cukup banyak juga anak-anak yang punya blog. Wah... benar-benar baru tahu saya ternyata anak-anak juga melek ngeblog. Sebagian diantaranya, mereka memang penulis buku KKPK jadi wajar kalau mereka punya blog.

Blogger teman-temannya Damai


Saya pun Jadi Terinspirasi

Saya tentu terinspirasi dari kisah Damai ini. Apalagi banyak juga anak-anak yang punya blog selain Damai. Sebelumnya, saya mengira bahwa anak SD belum mengerti apa gunanya blog. Namun Damai mampu menepis anggapan saya bahwa anak SD belum saatnya dikenalkan blog. Maka saya mulai mencoba mengenalkan blog pada murid saya.

Waktu itu saya sedang aktualisasi prajabatan dan ditugaskan untuk membuat kegiatan inovatif yang belum dilakukan di sekolah. Saya langsung berpikir untuk memakai blog untuk media belajar siswa. Saya tidak meminta siswa membuat blog. Cukup saya yang membuat blog dan mengisinya dengan konten-konten materi pelajaran. Namun konten yang ada tidak hanya tulisan materi saja. Ada video, kuis soal, bahkan games.

Blog Pembelajaran Buatan Saya

Saya meminta siswa mengerjakan soal yang ada di blog tapi mengerjakannya tidak ditulis dikertas. Namun, siswa langsung mengetik dan mengirim jawabannya lewat kotak komentar. Tentu saya terlebih dahulu bagaimana cara mengerjakannya. Memang sih ada siswa yang menganggap itu ribet. Namun, beberapa lama setelah itu, ada salah satu siswa yang meminta saya untuk mengupdate konten blog tersebut. Saya senang mendengar itu. Berarti ada siswa yang antusias terhadap blog walaupun hanya satu siswa hehehe.

Jadi bisa disimpulkan sebenarnya anak SD bisa diajarkan ngeblog. Namun tentu harus melalui pertimbangan yaitu ketersediaan hardware (laptop/PC) dan akses internet. Satu lagi yang penting adalah kemauan anak. Sangat disarankan ngeblog ini untuk anak yang memang terlihat punya pasion menulis. Namun, jika sudah dikenalkan tapi anak terlihat seperti tidak tertarik ngeblog, ya sudah tidak perlu dipaksakan.

Saya berharap semoga kedepanya saya bisa mengenalkan blog lebih jauh kepada murid di sekolah. Dan tentu juga semoga di masa depan bisa seperti Orang tuanya Damai yang mampu menjadikan anaknya suka ngeblog sejak dini.


[Continue reading...]

Komentar Terbaru

 
Copyright © . Brian Prasetyawan's Blog - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger