07 Maret 2017

Mendekatkan Anak pada Bahan Bacaan yang Menarik

freepik.com


Behind The Scene:
Wihhh ternyata dimuat juga. Ini tulisan kedua di tahun 2017 yang dimuat media cetak. Saya mengirim tulisan ini pada 5 Februari. Setelah itu setiap hari saya beli Warta Kota untuk mengecek apakah sudah dimuat atau belum. Lalu tanggal 9 Februari mendapat email pemberitahuan kalau tulisan saya akan dimuat. Yeayy makin senanglah saya. Saya kira langsung dimuat keesokan harinya. Ternyata nggak. Selama seminggu saya beli terus korannya tapi nggak dimuat ternyata. Dua minggu sejak mendapat email pemberitahuan saya mulai gundah. Saya mulai berpikir macam-macam. Jangan-jangan tulisan saya udah dilupain. Saya pun berpikir untuk mengirim ke koran lain. Namun saya menahannya dulu. Saya coba sabar lagi. Selain itu saya juga belum bias nentuin rubrik koran mana yang kira-kira cocok dengan tulisan saya ini. Sejak itu saya hanya mengecek lewat epapernya saja. Saya mulai pasrah dan nggak berharap banyak. Eh tapi... ditengah kepasrahan itu, muncul kabar tak terduga. Pagi itu (6/2) saya mendapat info di WA dari Pak Hari (Rekan saya di Seksi Komsos Gereja). Dia memposting foto tulisan saya yang ternyata dimuat di Warta Kota ! Wihhhh senengnya bukan main. Untung aja belum saya kirim ke koran lain. Berarti memang harus lebih sabar nunggunya. Saya juga mengapresiasi Warta Kota yang professional karena telah mengirim email pemberitahuan sebelum memuat tulisan dan juga email pemberitahuan setelah pemuatan. Selain itu juga menyertakan bukti pemuatan dalam bentuk pdf.

Oke itu tadi sedikit cerita proses dibalik dimuatnya tulisan ini. Sekarang langsung saja, berikut ini tulisan asli yang saya kirim.

Mendekatkan Anak pada Bahan Bacaan yang Menarik
Bicara tentang minat baca, tentu kita sudah tahu bagaimana kondisi minat baca masyarakat Indonesia menurut berbagai Survey. Tidak perlu disebutkan disini, kita juga sudah hafal berapa indeks tingkat membaca orang Indonesia menurut UNESCO. Jadi tidak perlu panjang lebar membahas hasil survey dan mencari dimana letak kesalahannya. Mari membahas solusi yang efektif untuk menumbuhkan minat baca.

Menumbuhkan minat baca pada seseorang tidak bisa melalui proses yang instan. Minat baca akan tumbuh jika seseorang menganggapnya sebagai salah satu hobinya. Sama seperti orang yang hobi melukis, menyanyi, memasak, olahraga, atau hal lainnya. Saat menjalani hobi, seseorang akan dengan senang hati melakukannya bahkan tanpa keberatan jika harus mengeluarkan biaya. Lalu bagaimana membuat agar seseorang nantinya akan memilih baca buku sebagai salah satu hobinya ?

Hal tersebut bisa diawali ketika seseorang masih berusia dini. Ya…perkenalkanlah dan dekatkan buku ketika masih kanak-kanak. Usia balita hingga SD adalah masa yang tepat untuk menumbuhkan minat baca. Untuk itu, maka pihak yang berperan adalah orang tua dan guru. Pada tulisan ini akan lebih spesifik pada peran orang tua.

Orangtua sudah bisa mulai berperan sejak anak berusia balita. Banyak situs parenting yang menyarankan bahwa balita usia 1-2 tahun sudah bisa dikenalkan dengan buku. Bahkan usia dibawah satu tahun pun juga sudah bisa dikenalkan. Ingat… konteksnya adalah dikenalkan, bukan meminta anak langsung bisa membacanya. Isi buku juga bukan cerita dengan kalimat panjang. Namun hal yang lebih sederhana seperti hanya sekadar mengenal kata-kata kerja atau benda dikehidupan sehari-hari. Mengenalkannya juga bisa dengan cara membacakan isi buku kepada anak dan memperagakannya. Jadi setidaknya bisa membuat anak tertarik pada buku.

Memang butuh usaha ekstra dan mungkin kenyataannya membuat anak tertarik pada buku tidak semudah seperti anak tertarik pada gadget. Mungkin saja anak hanya akan melempar-lempar atau ingin merobek buku itu. Maka memilih buku yang tepat juga harus dipertimbangkan. Untuk usia balita, buku yang tepat adalah yang berjenis board book. Bahannya terbuat dari karton tebal sehingga tidak mudah rusak.

Memilih buku yang tepat dan menarik juga berlanjut ketika anak berusia SD. Walaupun buku banyak tersedia, mungkin saja belum tentu membuat anak tertarik pada buku. Mungkin jenis buku itu kurang menarik bagi anak. Sebagai contoh, tentu anak kelas 1 SD akan kurang tertarik pada buku yang tebal dan hanya berisi tulisan saja.

Di sekolah dasar tempat saya mengajar, saya melihat para siswa cukup antusias membaca buku. di perpustakan. Apalagi setelah mulai adanya pojok baca di beberapa kelas. Jadi permasalahan sebenarnya bukan terletak pada minat baca anak yang rendah, tapi kurangnya akses terhadap bahan bacaan yang sesuai dan menarik. Itu yang membuat anak Indonesia terkesan jarang membaca. Maka hal itulah yang juga perlu dilakukan orang tua, yaitu menyediakan bahan bacaan di rumah secara berkelanjutan agar anak tidak jauh terhadap akses bacaan.

Saya juga memperhatikan buku seperti apa yang senang dibaca siswa. Perspektif buku menarik tidak sama antara anak kelas 1 sampai kelas 6. Setidaknya dari pengamatan saya, dapat disimpulkan ada dua kelompok. Pertama, buku menarik untuk anak kelas kecil (1-3 SD) tentu yang tidak tebal. Bisa berupa dongeng, cerita legenda, atau fabel. Namun dengan konten yang full colour dan banyak gambar.

Lalu yang kedua, kelompok anak kelas besar (4-6) sudah bisa tertarik pada buku yang agak tebal, dan banyak berisi tulisan dan sedikit gambar namun dengan genre novel atau kumpulan cerpen anak. Sebagai contoh adalah buku seri KKPK atau Fantasteen.

Berdasarkan hasil pengamatan tersebut, orang tua silakan menyesuaikan jenis buku yang menarik tersebut ketika akan menyediakan bahan bacaan di rumah untuk anak

Dengan membiasakan anak membaca buku sejak dini, maka harapannya ketika beranjak dewasa dia dengan kesadaran sendiri akan memilih baca buku sebagai hobinya.

Raimundus Brian Prasetyawan
Guru SDN Sumur Batu 01 Pagi
S1 PGSD Unika Atma Jaya Jakarta

Dimuat di Halaman Publik Service, Rubrik Citizen Journalism, Harian Warta Kota Edisi Senin 6 Maret 2017



14 comments:

  1. Aakkk sukses nih kakak, aku kapan yaa:(

    btw baca ini jadi keinget bapakku di rumah loh. Pas kecil dulu bapak gasuka liatin aku baca komik terus beliau nyaranin aku baca Enid Blyton yang 5 Sekawan karena menurut beliau yang uda baca itu buku bagus banget ttg petualangan gitu. Akhirnya aku baca tapi bukan yang 5 sekawan cuma serial st.Claire doang terus semenjak itu aku lebih ke novel daripada KoMik. Hehehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wihh keren bapakmu.. bisa ngarahin kamu buat baca 5 sekawan. Lah aku pas kecil bahan bacaan dari bapakku cuma koran kompas πŸ˜… yang kubaca cuma kalo pas ada tugas kliping πŸ˜†

      Hapus
  2. Selamat ya Mas, makin sukses nulisnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe iya.. makasih mba. Sukses untuk mbak juga :)

      Hapus
  3. wah wah keren tulisannya dimuat.. selamat

    BalasHapus
  4. Keren mas. Sewaktu kecil g pernah baca2 mas, tapi suka pinjem serial bobo dan mentari. Pertama kali baca novel kok ane tulisan semua g ada gambarnya. Akhirnya suka baca harry potter waktu itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya waktu kecil ga suka baca yang ga ada gambarnya. Makanya waktu pinjam bobo punya saudara, yang dibaca cuma bona dan rong-rong haha.

      Hapus
  5. membaca dalam media menarik membuat anak lebih cepat tanggap karena motoriknya akan lebih tajam lagi ,,, kakek2 mah tetap akan lambat dikit,,,wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya media bacaann harus menarik dan sesuai perkembangan anak

      Hapus
  6. anak sekarang bacanya ampun deh
    padahal buku udah dikasih gratis....
    triknya bisa dicoba
    btw selamat mas, bisa tembus koran...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kalo disuruh cari jawaban di buku paket, pada gampang nyerah. Malah belom baca udah nanya duluan "pak nyarinya dihalaman brp?"

      iya makasih mas :)

      Hapus
  7. dengan dimuatnya disebuah harian tentu menyemangati untuk terus menulis hal yang berguna dan bermanfaat dong yah
    SELAMIT, SELAMUT, SELAMOT, SELAMAT yah
    SALAM SEHAT DAN CERIA SELALU MAS BROW

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ini salah satu sumber energi yang ampuh untuk semangat nulis. Makasih Mang hehehe

      Hapus

Silakan mengirimkan komentar yang sesuai dengan postingan diatas.
Kalau bisa jangan panggil saya "Pak/Om". Saya masih umur dibawah 25 kok dan belum married haha. Langsung panggil nama aja malah nggak papa, biar akrab hehe

Satu lagi, tolong berkomentar menggunakan nama pribadi. Jangan nama produk/bisnis/judul postingan artikel. Komentar menggunakan nama tersebut terpaksa akan saya hapus.

Komentar Terbaru

 
Copyright © . Brian Prasetyawan's Blog - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger