Karena yang tertulis akan bernilai di masa depan

20 September 2016

Dua Halaman yang Tak Biasa

Suatu hari di bulan Mei, sebuah notifikasi pesan muncul di facebook (FB) saya. Dengan perasaan yang biasa saja, saya mengklik dan melihat pesan tersebut. Nah perasaan yang luarrrrr biasaaaaa muncul seketika setelah saya baca pesan itu. Weh.. emang pesan dari siapa sih ? isinya apa sih ?

Bukan.. bukan dari gebetan kok . Mantan ? Bukan jugaaa !! -_-.

Malah ini pesan dari bapak-bapak. Pak Budi namanya. Sebenarnya saya nggak kenal dengan beliau. Dahulu, saya iseng aja ngeprove permintaan pertemanan dari dia. Sepertinya dia salah satu pengunjung blog saya sehingga tahu FB saya. Eh... sekarang dia send an amazing message.
 
Garis besar isi pesan itu adalah  dia sedang membantu istrinya untuk membuat buku yang mengulas jurusan kuliah. Berkaitan dengan itu, maka beliau minta waktu untuk mewawancarai saya. WHAT ?! NGGAK SALAH NIH ?! Saya nggak salah denger ?! Atau Bapak nggak salah pilih narasumber ?! hahahaha

Tanpa ragu, tentu saja saya mau diinterview. Ternyata beliau menghubungi saya karena latar pendidikan saya yang PGSD. Beliau perlu sharing pengalaman dari lulusan PGSD dan teringatlah salah satu teman FBnya yang lulusan PGSD yaitu saya hehe

Malam itu, saya bersiap menerima panggilan telepon. Yak... siapa lagi kalau bukan telepon dari Pak Budi hehehe.... Saya ditanya segala hal tentang perkuliahan pgsd dan pekerjaan yang sekarang saya lakukan. Setelah kurang lebih satu jam, wawancara selesai. Katanya kira-kira bulan Juli bukunya terbit. 

***

Suatu hari di akhir Juli. Lagi-lagi saya sedang iseng buka FB dan munculah di timeline postingan Pak Budi. Postingan itu berupa video istrinya yang sedang mengenalkan bukunya yang baru terbit, "Majors The Future".



WAHH..... ternyata bukunya udah terbit ! Besoknya, setelah pulang kerja saya mampir ke Gramedia. Meskipun mesti nguras kantong sendiri, saya nggak pikir panjang untuk beli itu buku demi melihat hasil wawancara saya.

Saya kira pernyataan-pernyataan saya hanya dimuat secuplik-secuplik saja. Eh Nggak Nyangka... ternyata malah dua halaman ditambah foto dan juga nama saya ditulis besar-besar. Ternyata hasil wawancara itu untuk mengisi halaman profil. Duh... jadi ga enak. Saya kan mah apa atuh. Sebenernya cuma lulusan PGSD biasa. Tapi ditampilkannya kok seakan kayak sosok inspiratif gitu.


Setelah saya membacanya, saya makin nggak enak. Saya merasa pernyataan-pernyataan saya belum terlalu kuat untuk menginspirasi pembaca. Kalau dilihat, sosok-sosok lain yang juga mengisi halaman profil terlihat lebih meyakinkan dari segi pengalaman yang mereka share.

Hal itu membuat perasaan saya kurang spektakuler menyambut tertulisnya nama saya untuk pertama kalinya di sebuah buku. Tapi ya sudah... tetap bersyukur. Bagaimana pun juga ini torehan sejarah baru dalam kehidupan saya. 

1 komentar:

  1. wah .. pasti bangga donk jadi salah satu pengisi halaman profil disalh satu buku

    BalasHapus

Silakan mengirimkan komentar yang sesuai dengan postingan diatas.
Kalau bisa jangan panggil saya "Pak/Om". Saya masih umur 25an kok dan belum married haha. Langsung panggil nama aja malah nggak papa, biar akrab hehe

Satu lagi, tolong berkomentar menggunakan nama pribadi. Jangan nama produk/bisnis/judul postingan artikel. Komentar menggunakan nama tersebut terpaksa akan saya hapus.

Praszetyawan.com

Sebuah blog personal berdiri sejak 2009

Terpopuler Bulan Ini

Random

randomposts