19 Agustus 2016

Bukan Pulpen Biasa

(Jam istirahat, saya mau keluar kelas dan masih ada beberapa murid di dalam kelas)

Murid A: "Pak... tunggu dulu" (berdiri dari tempat duduknya)

Saya: (sambil berjalan keluar kelas) "Kenapa ??"
Murid A, B, C: (agak berlari ke arah saya) "Tunggu  pak"
Saya: (berhenti di lorong depan kelas) "Ada apa sih ?"
Murid A, B, C: "Ini pak untuk bapak" (masing-masing memberikan satu pulpen kepada saya)
Saya: "Lho..... Untuk bapak ?
Murid A, B, C: Iya paakkk...
Saya: Dalam rangka apa ini ? bapak nggak ulang tahun kok " (sambil senyum-senyum)
Murid: Nggak papa pak.... Ya untuk bapak aja. Rasa terimakasih.
Saya: "Oh.... iya yaudah.. trimakasih ya"
Murid A, B, C: Iya pak.... (sambil agak berlari kembali ke dalam kelas)
Bagi anda, khususnya guru muda, Kejadian di atas mungkin sudah sering dialami dan mungkin juga terkesan biasa saja. Tapi tidak bagi saya. Karena pada dasarnya saya merasa sebagai guru yang biasa saja. Baik dalam hal cara mengajar maupun kedekatan dengan murid. Sehingga saya sangat jarang mengalami hal itu dan saya pun tidak terlalu berharap murid akan seperti itu. Walaupun sebenarnya saya juga mau mendapat perlakuan seperti itu dari murid. Apalagi kalau lihat post temen-temen pgsd/cpns guru di medsos, saat mereka mendapat perhatian dari murid. Makin pengen juga digituin hehe.

Memang hanya tiga buah pulpen hitam biasa. Namun bukan itu poinnya. Ada hal yang lebih bernilai, yang bisa dianalisis dari kejadian itu. Kepekaan, Inisiatif, dan Perhatian (mungkin ada nilai-nilai lainnya). Maka, saya pun senang dan mengapresiasi tindakan tiga murid perempuan itu. Karena ketiga nilai yang melatarinya itu membuat saya merasa tindakan mereka begitu "mahal". Hal lain yang membuatnya "mahal" adalah..... Kejadian ini tidak dilatari event apapun seperti hari guru, ultah saya, atau perpisahan. Nggak ada hujan nggak ada angin, eh tau-tau tiga anak itu kasih pulpen ke saya. Kalau memberi sesuatu saya pas ada event, bisa saja karena memang tradisi atau ikut-ikutan teman.

Lebih lanjut, kejadian itu membuat saya makin bersyukur menjadi guru dan juga makin menguatkan saya. Karena selama ini tidak jarang saya suka menyalahi diri sendiri karena merasa belum menjadi guru yang ideal.

Jika dianalisis lagi, ini merupakan indikator bahwa murid telah dengan terbuka "menerima saya". Indikator itu perlu bagi saya agar lebih percaya diri dan mengurangi kebiasaan saya menyalahi diri sendiri dalam kaitannya sebagai guru.

Pada akhirnya dengan adanya kejadian itu, saya berharap itu merupakan tanda bahwa mereka datang ke sekolah untuk belajar dengan niat dari kesadaran sendiri bahwa mereka butuh belajar. Bukan karena terpaksa menjalani rutinitas sehari-hari

NB: Saya menulis postingan ini murni sebagai ungkapan syukur. Bukan bermaksud lebay lho ya hehe.

0 comments:

Posting Komentar

Silakan mengirimkan komentar yang sesuai dengan postingan diatas.
Kalau bisa jangan panggil saya "Pak/Om". Saya masih umur dibawah 25 kok dan belum married haha. Langsung panggil nama aja malah nggak papa, biar akrab hehe

Satu lagi, tolong berkomentar menggunakan nama pribadi. Jangan nama produk/bisnis/judul postingan artikel. Komentar menggunakan nama tersebut terpaksa akan saya hapus.

Komentar Terbaru

 
Copyright © . Brian Prasetyawan's Blog - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger