20 Agustus 2016

Perpustakaan Tak Aktif, Pojok Baca Kelas pun Jadi.

- 6 comments
"Yah pak....!! baru juga baca sebentar !".

Teriakan kekecewaan yang terdengar menyenangkan bagi saya. Lho gimana sih ? Murid kecewa kok malah seneng ? Tidak. Saya tidak aneh kok hehe. Saya seneng karena berarti mereka benar-benar memiliki ketertarikan dan minat baca buku yang cukup tinggi. Kalo tidak tertarik, tentu mereka akan biasa saja ketika saya menghentikan waktu membaca. Saya sebenernya juga nggak rela membatasi kesempatan membaca mereka. Tapi kalo sudah saatnya pulang ya mau ga mau harus dihentikan.

Minat baca yang tinggi seperti itu harusnya tidak hanya berlaku pada anak SD saja tapi juga kalangan remaja dan orang dewasa. Saya sebagai penyuka buku, cukup gregetan ketika bertahun-tahun fakta yang selalu beredar adalah minat baca orang Indonesia rendah. Maka saya ingin sekali menularkan virus minat baca ke orang lain. Tapi kalo kepada teman-teman sebaya sepertinya sulit. Karena mereka sepertinya sudah punya ketertarikan lain dibanding membaca.

Nah..... Profesi saya sebagai guru sangat strategis untuk mendorong minat baca anak-anak. Dengan wewenang yang saya miliki sebagai guru, saya bisa mengarahkan kegiatan yang mendorong kebiasaan membaca.

Ketika mengawali kiprah di sebuah SDN di Jakarta Pusat, saya cukup prihatin dengan perpustakaannya. Jumlah bukunya sih cukup memadai. Namun luas ruangannya kurang ideal dan ternyata tidak ada petugas perpusnya. Aktivitas literasi pun menjadi tak terlihat. Kalau seperti itu kondisinya akan sulit mengarahkan siswa agar terbiasa membaca.

Maka saya berpikir, bagaimana caranya agar budaya membaca tetap terwujud. Akhirnya saya memulainya  dari kelas saya dahulu. Saat itu saya mengajar kelas 2. Saya coba bawa beberapa  buku dari perpustakaan ke kelas. Setelah saya perhatikan, ternyata murid-murid tersebut punya minat baca yang tinggi. Terbukti mereka antusias ketika saya persilahkan baca buku.



 Namun kebiasaan membaca belum berjalan ideal. Waktu belajar yang pendek tidak memungkinkan menyelipkan waktu khusus untuk membaca di setiap hari. Maka saya hanya menjadwalkan waktu membaca setiap hari Selasa, menjelang pulang sekolah. Penempatan buku-buku pun hanya ditumpuk saja. Saya sebenernya juga ingin menata buku-buku itu, agar di kelas terdapat pojok baca yang permanen. Tapi keterbatasan tempat, membuatnya tidak memungkinkan.

Saya juga cukup sulit menemukan buku dari perpus yang benar-benar pas untuk murid. Ada yang terlalu banyak tulisan dan tidak berwarna, ada yang kontennya terlalu berat untuk anak. Sebagian anak pun jadinya hanya membuka-buka halaman sebentar lalu mengembalikannya lagi. Akhirnya saya membelikan 6 buku cerita, kebetulan ada cuci gudang buku anak di gramedia pondok gede hehehe. Memang hanya sedikit sih tapi, setidaknya buku yang benar-benar dibaca murid bertambah.

Nah.... sekarang ini barulah kebiasaan membaca di kelas saya berjalan cukup ideal. Kini saya mengajar kelas 3. Di belakang kelas terdapat meja besar yang memungkinkan untuk meletakkan buku lebih leluasa, sehingga terwujudlah pojok baca di kelas. Frekuensi kesempatan membaca pun menjadi setiap hari. Sistem yang diterapkan adalah siswa yang sudah selesai mengerjakan soal latihan boleh baca buku. Melihat antusiasme yang begitu tinggi saya juga semangat untuk membeli buku lagi dan meminjam dari perpus gereja hehe.


Perpus gereja sudah vakum dan buku-bukunya terbengkalai. Sayang kan. Yaudah mending saya pinjem aja untuk murid saya hehehe. Kini terdapat 48 buku dan semuanya sudah sesuai dan menarik untuk anak.
 Walaupun kegiatan membaca ini sudah berlangsung berminggu-minggu, antusiasme mereka tak surut. Bahkan ketika saya lupa mempersilakan mereka baca buku, salah satu murid bertanya:

"Pak boleh baca buku nggak ?"

Kebiasaan membaca yang telah berjalan itu, mulai memperlihatkan hasilnya. Saat itu pelajaran bahasa Indonesia membahas tentang watak tokoh dalam sebuah cerita. Saya pun mengambil secara random salah satu buku cerita sebagai bahan untuk membahas watak tokoh bersama murid. Tak disangka, banyak diantara mereka yang menanggapinya dengan menyebutkan tokoh-tokoh dan jalan ceritanya. Gurunya saja belum tau isi ceritanya hahaha. Itu membuktikan bahwa saat diberikan kesempatan membaca, mereka benar-benar membacanya hingga ceritanya pun masih melekat diingatannya. Sungguh momen yang menyenangkan. Saya dan murid seperti anggota klub buku yang sedang membedah sebuah buku.

Jadi.... sebenarnya minat baca orang Indonesia bisa saja tinggi jika sejak dini telah di fasilitasi buku yang memadai. Dari kebiasaan membaca sejak dini, diharapkan minat baca tetap terjaga sampai dewasa nanti.
[Continue reading...]

19 Agustus 2016

Bukan Pulpen Biasa

- 0 comments
(Jam istirahat, saya mau keluar kelas dan masih ada beberapa murid di dalam kelas)

Murid A: "Pak... tunggu dulu" (berdiri dari tempat duduknya)

Saya: (sambil berjalan keluar kelas) "Kenapa ??"
Murid A, B, C: (agak berlari ke arah saya) "Tunggu  pak"
Saya: (berhenti di lorong depan kelas) "Ada apa sih ?"
Murid A, B, C: "Ini pak untuk bapak" (masing-masing memberikan satu pulpen kepada saya)
Saya: "Lho..... Untuk bapak ?
Murid A, B, C: Iya paakkk...
Saya: Dalam rangka apa ini ? bapak nggak ulang tahun kok " (sambil senyum-senyum)
Murid: Nggak papa pak.... Ya untuk bapak aja. Rasa terimakasih.
Saya: "Oh.... iya yaudah.. trimakasih ya"
Murid A, B, C: Iya pak.... (sambil agak berlari kembali ke dalam kelas)
Bagi anda, khususnya guru muda, Kejadian di atas mungkin sudah sering dialami dan mungkin juga terkesan biasa saja. Tapi tidak bagi saya. Karena pada dasarnya saya merasa sebagai guru yang biasa saja. Baik dalam hal cara mengajar maupun kedekatan dengan murid. Sehingga saya sangat jarang mengalami hal itu dan saya pun tidak terlalu berharap murid akan seperti itu. Walaupun sebenarnya saya juga mau mendapat perlakuan seperti itu dari murid. Apalagi kalau lihat post temen-temen pgsd/cpns guru di medsos, saat mereka mendapat perhatian dari murid. Makin pengen juga digituin hehe.

Memang hanya tiga buah pulpen hitam biasa. Namun bukan itu poinnya. Ada hal yang lebih bernilai, yang bisa dianalisis dari kejadian itu. Kepekaan, Inisiatif, dan Perhatian (mungkin ada nilai-nilai lainnya). Maka, saya pun senang dan mengapresiasi tindakan tiga murid perempuan itu. Karena ketiga nilai yang melatarinya itu membuat saya merasa tindakan mereka begitu "mahal". Hal lain yang membuatnya "mahal" adalah..... Kejadian ini tidak dilatari event apapun seperti hari guru, ultah saya, atau perpisahan. Nggak ada hujan nggak ada angin, eh tau-tau tiga anak itu kasih pulpen ke saya. Kalau memberi sesuatu saya pas ada event, bisa saja karena memang tradisi atau ikut-ikutan teman.

Lebih lanjut, kejadian itu membuat saya makin bersyukur menjadi guru dan juga makin menguatkan saya. Karena selama ini tidak jarang saya suka menyalahi diri sendiri karena merasa belum menjadi guru yang ideal.

Jika dianalisis lagi, ini merupakan indikator bahwa murid telah dengan terbuka "menerima saya". Indikator itu perlu bagi saya agar lebih percaya diri dan mengurangi kebiasaan saya menyalahi diri sendiri dalam kaitannya sebagai guru.

Pada akhirnya dengan adanya kejadian itu, saya berharap itu merupakan tanda bahwa mereka datang ke sekolah untuk belajar dengan niat dari kesadaran sendiri bahwa mereka butuh belajar. Bukan karena terpaksa menjalani rutinitas sehari-hari

NB: Saya menulis postingan ini murni sebagai ungkapan syukur. Bukan bermaksud lebay lho ya hehe.

[Continue reading...]

Komentar Terbaru

 
Copyright © . Brian Prasetyawan's Blog - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger