18 April 2016

Aneka Kenangan di Lapangan Tanah Merah

- 2 comments
Generasi 90an adalah generasi yang masa kecilnya paling bahagia.

Pernyataan tersebut adalah hal yang lazim ditemukan di dunia maya saat ini. Fenomena mengagung-agungkan generasi 90an tak lepas dari keprihatinan terhadap anak-anak jaman sekarang yang terikat dengan gadget dan kurangnya hiburan anak seperti lagu dan acara anak di tv. Sangat berbeda dibanding anak 90an yang lebih sering main bareng di lapangan dan berlimpah hiburan anak.

Sebelum membahas lebih jauh, kenapa generasi yang disebut bukan generasi 80an atau 70an ? Ya mungkin karena generasi 90an adalah generasi terakhir yang mengalami "kebahagiaan-kebahagiaan sederhana" yang memang sesuai dengan masa perkembangan anak. Kebahagiaan yang dimaksud terwujud dalam lagu anak, acara tv anak, permainan dan jajanan tradisional.

Postingan ini memang bernuansa generasi 90an. Tapi saya mau cerita hal yang lebih spesifik. Hal yang saya dan teman-teman lakukan sewaktu masih kecil saat sore hari di lapangan tanah merah.

Kebon Pala

"Brian.... Brian... main nggak ?" Itulah kata-kata yang udah nggak asing terdengar saat teman-teman nyamperin saya buat main. Begitu mendengarnya saya langsung buka pintu dan menjawab "Ayoo...". Dari rumah saya, tujuan selanjutnya bisa dua kemungkinan. Langsung ke lapangan atau ke rumah teman lain. Kalau dirasa orangnya belum cukup ramai, kami akan nyamper temen lain dulu. Itulah kami, saling membutuhkan. Permainan nggak bisa dimulai tanpa kehadiran teman lain.      

Sering juga tanpa disamper, saya inisiatif buat dateng ke lapangan. Ya pokoknya kalau udah lewat dari jam 3, pasti sudah ada anak yang dateng ke lapangan. Bicara soal lapangan, dahulu setidaknya ada empat lapangan mulai dari yang kecil sampai lumayan luas yang biasa kami pakai buat main. Lapangan terkecil ada di sebelah rumah saya. Biasanya saya main disitu sama temen-temen dekat rumah. Di lapangan itu saya lebih banyak main permainan tradisional.

Lalu disebelah barat ada dua lapangan yang letaknya berdekatan. Dua lapangan itu lebih sering buat main bola. Yang terakhir yaitu lapangan utamanya. Kami menyebutnya kebon pala. Disebut kebon karena memang tumbuh beberapa pohon di pinggir lapangan bahkan di tengah lapangan. Dan salah satu pohon yang tumbuh adalah pohon pala. Kebon Pala ini menjadi tempat main anak-anak se-RT.

Jika dirasa sudah cukup banyak anak yang berkumpul di kebon pala, kami langsung mulai main. Anak yang main mulai dari SD sampai SMA. Seringnya sih main bola. Sendal ditaroh disekitar tiang gawang. Kami saling suit dengan teman yang kira-kira sepantar kemampuan main bolanya. Akhirnya terbentuk tim yang menang suit vs tim yang kalah suit. Permainan dimulai !
Kadang kadang juga main kasti, benteng dan bite tujuh.  Kami main sampai jam 6. Menjelang magrib itu, kami otomatis sepakat udahan mainnya. 

Ilustrasi main bola di lapangan tanah merah

Kebal Benda Tajam 
Kebon pala sesungguhnya bukan tempat yang terlalu aman, apalagi di belakang gawang sebelah barat. Tak jarang ada paku atau beling berserakan yang tak kasat mata. Juga tumbuh tanaman putri malu yang ada tajam-tajamnya itu. Namun kami tetap main tanpa alas kaki ! Hasilnya..... entah sudah berapa kali, jari-jari ini kesusupan duri tanaman, hingga telapak kaki ini menginjak pecahan beling sampai paku karat. Lecet-lecet karena jatuh di tanah juga merupakan hal biasa. Saat bermain di lapangan kecil sebelah rumah, berulang kali saya menerobos kawat berduri, untuk sekedar ngambil bola yang masuk pekarangan orang itu.

Maka jika dipikir-pikir, saya baru menyadari kalau anak-anak 90an juga kebal benda tajam. Maksud kebal disini bukannya tidak berdarah atau tidak kesakitan. Tapi kami biasa saja saat badan ini terluka, nggak sampe nangis meraung-raung.

"Ah elah... berdarah kena beling" *muka tanpa ekspresi*
 "Oii... gue pulang dulu ya... kena beling nih" 

Hahaha Kira-kira begitulah reaksi saya kalo kena paku/beling. Biasa aja. Nggak ada kepanikan, nggak ada jeritan tangis. Pulang pakai sendal, dan berlumuranlah sendal itu dengan darah.

 Beling kaca yang siap menghujam telapak kaki


Kreativitas
Secara tak sadar kreatvitas juga dibutuhkan. Kami bersama-sama membuat gawang dari bambu. Mulai dari membeli bambu yang masih panjang-panjang, memotong sampai merakitnya menjadi gawang. Kami juga pernah membuat sendiri turnamen bola yang mengundang anak-anak RT lain (Walaupun akhirnya ga jelas ujungnya, karena turnamen bubar dipertengahan wkwk)

Badan, Sendal, dan Baju Berlumur Debu Tanah Merah
Ini salah satu hal sepele yang malah jadi kenangan buat saya. Sekarang ini saya jarang sekali kotor-kotoran, sehingga debu tanah lapangan kebon pala menjadi kenangan tersendiri. Teringat bagaimana saya harus mengulang cuci kaki ketika nyucinya belum bersih dan meniggalkan jejak kaki di lantai. Harus merendam baju dan celana yang kotor dengan air deterjen. Belum lagi omelan dari emak kalau kotornya kebangetan hehe.

Kebon Pala Nasibmu Kini
Bagaimana kebon pala sekarang ini ? Masih ramaikah oleh anak-anak yang bermain ? Kebon pala tetap ramai, tapi bukan oleh anak-anak yang bermain melainkan oleh mobil-mobil yang parkir disana.
Namun masih tetap disyukuri lapangan kebon pala masih ada. Entah... mungkin beberapa tahun mendatang lapangan legendaris itu akan menjadi cluster.


Yak.... itulah beberapa kenangan yang membekas bagi saya. Memang bukan tentang permainannya tapi sisi lainnya. Sisi lain saat masa-masa bermain yang kini sudah tak bisa dirasakan lagi.

sumber gambar:  
blognyakacong.wordpress.com,
cingsingsehat.blogspot.com
[Continue reading...]

16 April 2016

Ketika Memiliki Blog Lebih Dari Satu

- 9 comments

"Bikin blog lagi ah....". *Beberapa bulan kemudian, blog tersebut ditelantarkan*.

Itu adalah cuplikan kondisi saya waktu awal-awal ngeblog. Ya waktu itu saya lagi semangat-semangatnya ngeblog. Saking menggebu-gebunya sampai bikin blog-blog baru lagi dengan tujuan yang berbeda-beda. Blog-blog tersebut ada di Portofolio. Di portofolio tersebut ada 9 blog yang udah di buat ditambah dua akun blog keroyokan (Kompasiana & Guraru). Berarti totalnya 11.
Namun beberapa diantaranya hanya semangat di awal pembuatannya aja dan makin kesini makin kehabisan bensin. Nggak ada niat buat ngupdate blog-blog yang udah dibuat.

Selain 11 blog itu, sebenernya masih ada lagi blog yang pernah saya buat.

1. http://pknkelas5sd.blogspot.co.id/
Blog ini cuma dipakai sesaat aja. Blog ini untuk mendukung skripsi saya yang memang membahas media blog untuk pembelajaran. Tapi ya gitu... setelah skripsi kelar, kelar juga ngurus blog ini.

2. http://brian-musik.blogspot.co.id/
Blog ini juga cuma dipakai sesaat. Waktu itu blog ini dibuat untuk ikut lomba blog di Atma Jaya.

3. http://rbrianp.blogspot.co.id/
Ini cuma blog eksperimen. Waktu itu saking semangatnya ngeblog, saya sampai berniat bikin buku tutorial ngeblog. Tapi akhirnya tulisan-tulisan tutorial itu hanya jadi penghuni abadi folder di laptop saya. Tadinya blog ini untuk menampung ekperimen modifikasi blog dan pemasangan widget sebagai bahan isi buku yang (niatnya) mau saya buat.

4. carnakrisian.wordpress.com
Blog ini tadinya untuk menampung catatan-catatan kuliah. Tapi ujung-ujungnya cuma sekedar niat aja. Setelah dibuat, cuma diposting satu postingan aja. Akhirnya blog ini sudah saya hapus.

Oke.. jadi, sepanjang sejarah saya menekuni dunia ngeblog, sudah ada 15 blog yang dibuat ! Bener-bener kurang kerjaan -_- dan sebagian diantaranya akhirnya cuma jadi nyampah aja ckckck 😴. Akun blogger pun saya sampai punya dua ckck. Padahal ngurus satu blog aja suka angot-angotan.

Sebenernya percuma bikin blog banyak-banyak tapi kalau akhirnya cuma ditelantarin ((Betul tidak sodara-sodara ???)) Butuh pengelolaan yang baik kalau mau konsisten ngurus banyak blog. Saya jadi salut dengan kekonsistenan para blogger yang punya lebih dari satu blog dan ditambah lagi jadi penulis freelance di website lain.

Setelah saya sering kali menemukan blogger yang punya lebih dari satu blog, saya jadi dapat pelajaran. Jika mau mengelola lebih dari satu blog maka blog tersebut harus bertema. Agar kalau mau posting topik tertentu jadi jelas, mau diposting di blog yang mana.

Maka saya membagi blog-blog yang telah dibuat, ke dalam tema-tema berikut:

Kompasiana: Ruang fiksi (Puisi)
Brian Praszetyawan's Blog: Blog personal (tema campur aduk)
Brian's Book Collection: Blog buku
Taman Belajar Blog: Blog tutorial ngeblog
Guraru: Ruang pendidikan

Blog lainnya kebanyakan blog untuk organisasi. Jadi sudah jelas isinya tentang organisasi tersebut.

Sekarang ini sih saya berusaha konsisten ngupdate di dua blog saya (Brian Praszetyawan's Blog & Brian's Book Collection). Kalo kompasiana dan guraru ngupdatenya pas lagi ada ide / mood. Sedangkan  Taman Belajar Blog bener-bener udah nggak mampu saya update lagi.

[Continue reading...]

09 April 2016

Saya Blogger yang Seperti Ini.

- 5 comments


Saya membuat postingan ini untuk menanggapi postingan Mba Windi. Bukan ! saya bukan mau protes atau mau mengkritik. Justru saya terinspirasi dari postingan tersebut untuk dijadikan bahan refleksi.

Jadi Mba Windi (mungkin) sering menemukan pihak-pihak (mungkin para master blogger) yang suka memberi saran kalau ngeblog yang bener itu kayak gini-kayak gitu. Dia merasa ngeblog jadi banyak aturannya. 

Saya sendiri juga pernah membuat postingan yang bernada: Ngeblog itu kayak gini. Namun saya berusaha menuliskannya dengan nuansa sharing bukan menggurui. Saya mah apa atuh.... nggak pantes menggurui, karena masih banyak blogger yang lebih expert.

Jadi postingan saya tersebut lebih tepat bernada seperti ini: "Kalau saya ngeblognya seperti ini, silakan kalian mau setuju/ikuti atau nggak." Namun maafkeun kalau menurut kalian ada postingan saya yang terlihat menggurui. Sebenernya saya juga masih belajar, bahkan kepada blogger yang usianya dibawah saya.
 
Dari postingan Mba Windi juga saya menarik kesimpulan ada beberapa tipe blogger. Ada blogger yang berprioritas pada: statistik, komentar dan kunjungan balik,  penggunaan ilmu komputer (desain grafis, fotografi, video editing), meraup penghasilan, dan konten viral (SEO)

 
Dari tipe-tipe tersebut saya termasuk tipe blogger yang mana ?

Kalau dahulu saya termasuk blogger yang mendewakan statistik. Bener-bener saya pantau dan usahakan meningkatkan page rank, alexa rank, serta jumlah visitor. Saya waktu itu uring-uringan kalau page rank dan alexa rank turun. Saya juga mengusahakan blog saya SEO supaya bisa nangkring di halaman 1 google.

Makin ke sini prioritas saya pada statistik mulai berkurang. Saya lebih prioritas yang penting bisa ngupdate artikel blog. Tapi saya juga bukan menjadi sama sekali tidak peduli statistik blog. Page rank sih udah nggak peduli, tapi saya masih sedikit peduli terhadap alexa rank dan sangat peduli pada jumlah visitor. Jumlah visitor bagi saya seperti energi untuk tetap semangat ngeblog. Karena disatu sisi, saya sama sekali tidak meraup penghasilan dari ngeblog.


Akhir-akhir ini saya juga cukup mendewakan komentar dan kunjungan balik (kunbal). Komentar yang didapat juga sebagai energi untuk semangat ngeblog. Saya sih pasti bales komentar dan kunbal. Kalau untuk berkomentar balik masih diusahakan. Tapi bagaimana bisa bales komentar dan kunbal kalau nggak ada yang komentar ? Maka saya harus mulai blogwalking duluan. Tapi saya masih belum konsisten untuk blogwalking.

Terakhir tentang SEO. Saya masih cukup peduli pada SEO karena sebagian besar visitor blog saya berasal dari search engine. Tapi saya lakukan SEO standar-standar aja sih. Pakai template yang friendly SEO, masukin meta tag dan setiap habis bikin postingan, lakukan fetch as di google webmaster

Pada akhirnya saya setuju sama mba Windi kalau ngeblog itu ya terserah saja, suka-suka sang empunya blog. Karena tujuan orang ngeblog beda-beda.

Sumber gambar:
sunshinecoastseo.com
jefferlysuperclub.com
vetion-cyber.blogspot.com
[Continue reading...]

Komentar Terbaru

 
Copyright © . Brian Prasetyawan's Blog - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger