18 Mei 2015

Pendakian Perdana: Gunung Batu Jonggol

 Gunung Batu

Gunung Batu - Jonggol, mungkin bagi kalian yang sudah biasa hiking, gunung tersebut belum ada apa-apanya dibanding gunung-gunung lain yang lebih tinggi seperti Gunung Gede, Salak, Semeru, Merapi, dll. Memang Gunung Batu mungkin lebih tepatnya disebut bukit karena tingginya hanya 875 mdpl.

Namun, bagi saya ini adalah pengalaman pertama mendaki gunung. Saya benar-benar excited, tapi bukan karena naik gunungnya, namun lebih karena ini petualangan pertama saya dengan teman-teman ex misdinar. Padahal sebelumnya saya belum pernah punya keinginan naik gunung. Saya memang kurang tertarik dengan kegiatan itu. Apalagi dengan semakin banyak berita pendaki yang tersesat di gunung. Semakin nggak ada keinginan deh buat naik gunung.

Tapi hal itu berubah 180 derajat. Semua berawal dari wacana yang bolak-balik dibahas oleh teman-teman saya yang semuanya ex misdinar. Sekitar sebulan yang lalu saya diberitahu teman saya, Adri, kalau anak-anak ex misdinar mau jalan antara tanggal 14, 15, atau 16 Mei 2015. Rencana awalnya mau rafting, tapi kemudian berubah menjadi mau naik gunung batu dan tanggal sudah ditetapkan 15 Mei. Ditengah rencana tersebut sempat terancam batal, karena semakin sedikit teman-teman yang bisa ikut. Akhirnya beberapa hari sebelum hari H, diputuskan rencana ini tetap dilaksanakan dengan peserta empat orang.

 Adrie, Vincent, Saya, Danie

Permasalahan lain yang muncul adalah jalan menuju kesananya. Kami nggak ada yang tahu jalannya. Kalau sudah begini, satu-satunya andalan adalah nyari jalan lewat google maps. Saya juga searching di google dan nemu blog yang menjelaskan rutenya.

Rute Kampung Sawah (Bekasi) - Gunung Batu

Sebenarnya mau darimanapun asalnya (Jakarta/Bekasi/Tangerang), jalan yang mesti dicari adalah jalan alternatif Cibubur. Untung saja rumah saya tidak jauh-jauh banget dari jalan tersebut. Saya menuju jalan Alternatif Cibubur lewat jalan kranggan. Dari jalan Alternatif Cibubur jalan terus ke arah timur. Taman Mekarsari lurus terus. Patokan selanjutnya RSUD Cileungsi lurus terus. Setelah itu akan ada jalan bercabang, pilih yang sebelah kiri (arah ke Cariu). Nah patokan terakhir adalah Indomaret dan Alfamart Sinargalih (kedua minimarket itu berdiri bersebelahan).

 Patokan utama, Indomaret & Alfamart Sinargalih

 Pertigaan di depan sebuah SD negeri, disitu belok kanan

Tidak jauh dari kedua mini market itu, persis di depan sebuah SD Negeri, ada pertigaan. Disitu kita belok ke kanan. Tidak ada papan nama jalannya tapi sepertinya nama jalan itu adalah jalan menteng. Ikuti saja jalan tersebut dan jangan belok-belok. Dari pertigaan tersebut, menurut yang saya baca di blog lain, jarak ke gunung batu masih sekitar 20 Km ! Jika sudah melewati kantor kepala desa Sukaharja, maka Gunung Batu sudah dekat. Nanti akan ditemukan petunjuk dimana tempat parkirnya dan menuju kesana kita melewati jalan yang lebih kecil dan berbatu.

Baru Saja Ada Korban

500 meter sebelum sampai di Gunung Batu, kami mampir dulu ke sebuah warung untuk ke WC dan membeli makanan kecil. Penjaga warung tersebut mengingatkan kami untuk hati-hati karena di Gunung Batu belum lama ada korban tewas yang terjatuh saat menuruni gunung. Teman saya kaget mendengarnya. Kalau saya suda tidak kaget, karena semalam sebelumnya saya nggak sengaja nemu berita tentang itu. Sampai di area parkir, di titik awal jalur pendakian memang masih diberi garis polisi. Namun kata penjaga warung yang ada disitu nggak papa kalau mau naik, dari kejauhan saya juga melihat ada orang yang sedang menuruni gunung.

Memanjat Gunung

Jalur pendakian diawali dengan jalan tanah yang menanjak. Belum lama mendaki, kami berempat sudah berhenti karena capek.. hahaha payah beud dah. Berkali-kali berceloteh kalau kita sampai sini saja nggak usah sampai puncaknya haha. Awalnya saya kira jalur pendakian ini hanya berupa jalan menanjak, tapi ternyata tidak itu saja. Setengah perjalanan menuju puncak, jalur pendakiannya berupa "dinding batu" sehingga untuk melewatinya kita harus memanjat seperti panjat tebing. Maka di beberapa lokasi jalur yang tingkat kemiringannya hampir 90 derajat, sudah disediakan tali. Saat melihat betapa curamnya jalur, saya dan teman-teman beberapa kali berpikir apakah akan lanjut sampai puncak atau nggak. Masalahnya bukan bisa manjat atau nggak, tapi masalahnya nanti bisa turunnya atau nggak. Kami berempat benar-benar masih sangat pemula. Teknik memanjat atau menuruni tebing menggunakan tali belum kami kuasai. Sampai pada akhirnya teman saya, Danie, memutuskan tidak melanjutkan ke Puncak karena sepatunya licin. Kami bertiga melanjutkan pendakian. Lalu giliran saya yang berpikir tidak ke puncak padahal tinggal sedikittttt lagi. Saya terlalu mikirin gimanan nanti turunnya. Eh.... ga disangka, Danie muncul tidak terlalu jauh di belakang saya. Ternyata dia "dipaksa" dan dibantu pendaki lain saat memanjat batu-batu. Danie juga mau ke puncak yaudah saya pun ikut juga (yg cewek aja naik ke puncak, masa gw nggak hehe). Ya pada akhirnya kami berempat berhasil menuntaskan misi pendakian gunung ini.
Dititik ini saya berpikir lama untuk naik atau nggak


Pengalaman yang didapat

Saat menuruni gunung kami dibantu dan dipandu oleh dua pendaki lain asal Tebet. Dari mereka saya mendapat pengalaman tentang cara yang benar menuruni gunung menggunakan bantuan tali. Selain itu saya juga menjadi tahu perlengkapan penting yang harus dipakai yaitu sepatu gunung dan sarung tangan.



Jalur ini masih cukup mudah dilewati

Kami berempat (satunya lagi yang di belakang kamera)

Yeayy... akhirnya puncak perdana !

1 comments:

  1. Keren, saya blm pernah sama sekali dengan yang namanya mendaki.

    BalasHapus

Silakan mengirimkan komentar yang sesuai dengan postingan diatas.
Kalau bisa jangan panggil saya "Pak/Om". Saya masih umur dibawah 25 kok dan belum married haha. Langsung panggil nama aja malah nggak papa, biar akrab hehe

Satu lagi, tolong berkomentar menggunakan nama pribadi. Jangan nama produk/bisnis/judul postingan artikel. Komentar menggunakan nama tersebut terpaksa akan saya hapus.

Komentar Terbaru

 
Copyright © . Brian Prasetyawan's Blog - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger