Karena yang tertulis akan bernilai di masa depan

17 November 2010

Anak Belakang

< anak belakang series >

Di kelas gue, kaum adam adalah kaum minoritas. Jadi, kaum hawa yang mendominasi penghuni kelas. Menyadari hal itu, makanya gue sama 2 temen gue lainnya, Sano dan Indra, sejak awal masuk kuliah lebih memilih duduk di barisan paling belakang. Hampir setiap hari kami bertiga duduk di belakang. Karena kebiasaan itu maka secara alamiah, kami menyebut diri kami sebagai anak belakang. Tidak ada yang mencetuskan nama itu karena kami sudah menyadari nama itu dari diri masing-masing. Anak-anak lain juga gak mengetahui nama itu. Itu hanya sebuah nama untuk mengakrabkan kami bertiga. 

Hingga sekarang kebiasaan itu masih berlangsung. Malah, kini member Anak belakang makin bertambah. Di mulai dari Devy. Gue lupa sejak kapan, hampir setiap hari dia juga ikut duduk sebaris dengan kami bertiga. Jadinya, dia pun akhirnya tergabung dalam grup ini.

Selanjutnya, selang beberapa waktu, hadirlah Kristine dan Lia yang mau ikut gabung dengan grup ini. Mereka berdua temennya Devy. Kami bertiga juga udah gak terlalu asing dengan mereka, jadi kami tanpa ragu menerimanya.

Nah, jadilah sekarang Anak Belakang dengan 3 mahasiswa dan 3 mahasiswi yang selalu duduk sebaris di belakang kelas.

>>Selanjutnya: PWG vs APWG

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan mengirimkan komentar yang sesuai dengan postingan diatas.
Kalau bisa jangan panggil saya "Pak/Om". Saya masih umur 25an kok dan belum married haha. Langsung panggil nama aja malah nggak papa, biar akrab hehe

Satu lagi, tolong berkomentar menggunakan nama pribadi. Jangan nama produk/bisnis/judul postingan artikel. Komentar menggunakan nama tersebut terpaksa akan saya hapus.

Praszetyawan.com

Sebuah blog personal berdiri sejak 2009

Terpopuler Bulan Ini

Random

randomposts