Karena yang tertulis akan bernilai di masa depan

24 Desember 2017

Menata Ulang Perpustakaan Sekolah


Selama saya bekerja di sekolah tempat saya mengajar sekarang, ada beberapa rencana yang ingin saya lakukan. Salah satunya adalah membenahi dan mengaktifkan kembali perpustakaan. Perpustakaan sekolah saya menempati satu ruangan yang tidak terlalu luas. Masalahnya adalah ruang yang tidak luas itu makin terasa sempit karena terdapat beraneka barang. Bagian tengah ruangan dipenuhi 10 meja komputer dan bagian pinggir kanannya terdapat dua meja lab. Beberapa barang yang tidak terkait perpustakaan juga berada disitu. Ada juga rak untuk meyimpan kartu anggota yang menurut saya itu tidak diperlukan. Kemudian, buku-buku pelajaran bekas yang berasal dari ruang-ruang kelas juga dioper ke perpustakaan. Maka jadilah perpustakaan yang merangkap menjadi gudang.

Saya sebenarnya sudah sangat gatal ingin membenahi perpustakaan itu. Melihat ukuran ruangan yang tidak besar, maka konsep yang tepat adalah membuat bagian tengah ruangan kosong tanpa ada kursi dan meja. Sebagai gantinya, disediakan karpet untuk duduk. Demi mewujudkan konsep itu, maka barang-barang yang hanya membuat sempit ruangan ingin sekali saya keluar-keluarkan. Tapi barang-barang itu mau diletakkan dimana ? Disatu sisi, ruang gudang berada di lantai tiga dan sepertinya sudah penuh.

Saya pun mengusulkan pembenahan perpustakaan ke kepala sekolah. Setelah beberapa lama, akhirnya mulai terlihat respon positif kepala sekolah. Dukungan mulai terasa. Barang-barang yang membuat sempit diijinkan untuk dikeluarkan. Buku-buku pelajaran diijinkan untuk dijual. Bahkan beliau juga sudah memikirkan pengadaan sarana untuk kedepannya. Saya cukup senang karena kepala sekolah mulai mempunyai visi yang sama dengan saya terhadap perpustakaan.

Saya juga ditugaskan untuk mengelompokkan buku sesuai dengan kategorinya. Memang, saya melihat penataan buku juga menjadi persoalan. Jika dilihat sekilas, koleksi bukunya cukup banyak. Semua rak sudah terisi buku. Namun pengelompokkan bukunya kurang jelas. Rak-rak tidak diberi label kategori buku. Sehingga orang yang melihat, tidak tahu buku tentang apa yang ada di rak tersebut. Bahkan saya menemukan ada sejumlah buku yang ternyata tidak cocok untuk anak SD.

Akhirnya pada Sabtu 3 September 2017, saya niatkan ke sekolah untuk mulai pembenahan. Saya di bantu guru olahraga. Meja lab dan barang lain yang tidak diperlukan dikeluarkan. Buku pelajaran yang menggunung juga dikeluarkan.

buku pelajaran yang memenuhi perpus

Buku-buku yang ada di rak di turunkan semua. Rak-rak pun kosong.  Dan jadilah area tengah ruangan dipenuhi buku-buku yang berserakan.




Selanjutnya buku-buku tersebut diletakkan kembali di rak-rak sesuai dengan kategorinya. Setelah buku-buku masuk rak semua, tinggal menata ruangan. Masih ada beberapa meja komputer yang  belum memungkinkan untuk dikeluarkan karena tidak ada tempat penampungan lain. Maka untuk sementara saya atur saja penempatannya menjadi seperti gambar berikut
.



Setelah membereskan barang dan penataan ulang koleksi buku, saya punya tugas baru yaitu pendataan koleksi buku.

Namun, baru mulai saya mendata buku-buku, aktivitas pembenahan perpus harus berhenti di tengah jalan. Ruang perpus kini justru dipakai menjadi ruang kelas 6 karena adanya rencana renovasi di lantai tiga. Buku-buku yang sudah ditata sesuai kategori, sepertinya kembali berantakan.

Hmm.... Yasudah. Berarti harus menunggu nanti setelah renovasi selesai. Mungkin dua tahun lagi.

10 komentar:

  1. wkwkwk susah banget pak emang
    saya dulu juga pernah semangat
    eh pas mau jalan diganti buat kelas juga
    padahal suka banget liat anak2 baca gitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahha lah sama ya ceritanya. Mau mengembangkan sekolah ada aja ya hambatannya.

      Nah persis.. saya juga pengen siswa disekolah saya terlihat budaya membacanya.

      Hapus
  2. Berantakan nggak masalah, Mas. Asalkan berantakan habis dibaca..hehe
    Memang harus rutin sih membereskan perpus biar terlihat rapih, jangankan perpus, kamar juga harus gitu..he

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha iya bener sih, itu berantakan karena abis dibaca. Malah bagus ya berarti bukunya dipakai hehe.

      Iya benar.... harus mau konsisten membereskan.

      Hapus
  3. Alamaaak.. Kalau guru-guru berpikiran sama dengan Mas Brian, pasti perpistakaan sekolah-sekolah bakalan rapi, bersih dan nyaman. Tentunya bakalan menarik minat baca anak-anak sekolah. Salut sama usahanya Mas Brian, bisa banget nih diterapkan di sekolah-sekolah lain yang perpustakaannya belum rapi

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe makasih mbak. Tapi masih belum sesuai target. Perpustakaannya malah lagi dipakai jadi kelas 😅

      Hapus
  4. Niat baiknya dan semangatnya, subhanallah. Semangat menginspirasi pak. Semoga ada banyak bapak-bapak guru seperti pak brian yang peduli dengan kemajuan anak-anak dengan membaca. di mulai dari kepedulian dengan perpustakaan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih mbak vini. Ya sebenernya simpel. Berhubung saya suka membaca, saya juga ingin anak-anak suka membaca juga. gitu aja hehe

      Hapus
  5. Udah capek-capek bongkar, tata ulang, terus pas mau mendata buku-bukunya, eh ujungnya bakal dijadiin kelas. :( Nasib perpustakaan kok sedih, ya.

    Dari buku-buku itu, ada novel atau komik nggak, Yan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya menyedihkan. Harus sabar nunggu sampe renovasi selesai baru bisa lanjutin urus perpusnya.

      Nggak ada novel & komik Yog :( Padahal rencana gw mau masukkin buku-buku KKPK, fantasteen, atau novel anak lainnya

      Hapus

Silakan mengirimkan komentar yang sesuai dengan postingan diatas.

Tolong berkomentar menggunakan nama pribadi. Jangan nama produk/bisnis/judul postingan artikel. Komentar menggunakan nama tersebut terpaksa akan saya hapus.

Praszetyawan.com

Sebuah blog personal berdiri sejak 2009

Terpopuler Bulan Ini

Random

randomposts