20 Februari 2016

Apresiasi Untuk Pembaca Brian Prasetyawan's Blog

- 12 comments


Akhir-akhir ini kegiatan ngeblog saya cukup menyenangkan karena beberapa postingan blog terbaru tidak sepi komentar. Ya memang bahagia buat saya itu salah satunya sesederhana ketika postingan blog ada yang mengomentari. Pembaca yang memberi komentar cukup mempengaruhi saya untuk tetap semangat ngeblog.

Kedepannya saya ingin situasi ini tetap berlanjut. Maka saya mau mengapresiasi pembaca blog ini yang sudah berkomentar, supaya kalian juga semangat balik lagi berkomentar di blog saya (Iya memang ada maunya hehehe). Namun perlu diketahui, apresiasi ini hanya untuk kalian yang punya blog ya.....

Apresiasinya seperti apa ? dikasih hadiah voucher belanja ? atau tiket liburan ? Waduh... kalau gitu ya bangkrut lah saya hahaha. Apresiasi ini bukan hadiah yang prestisius. Namun ini merupakan bentuk saling mendukung dan memberi semangat sesama blogger. yaitu dengan cara saling blogwalking dan memberi komentar

Apa bentuk apresiasinya ?
1. Saya akan balas komentar kalian

2. Saya pasti akan berkunjung balik ke blog kalian.

3. Saya akan berusaha berkomentar di blog kalian.

4. Jika kalian baru pertama kali berkomentar di blog ini, maka saya akan memasukkan blog kalian dalam daftar feedreader saya. Dengan syarat postingan terbaru blog kalian maksimal 2 bulan yang lalu sejak saya mengunjungi blog kalian. Dari feedreader itu saya akan blogwalking jika menemukan postingan yang bagus.

5.  Daftar link blog yang masuk di feedreader saya, juga ditampilkan di halaman blogwalking blog ini.

Terkait apresiasi no 4, saya tidak memilih memfollow blog kalian (bagi pengguna blogspot) karena setelah saya perhatikan, feed yang diberikan dari widget follow tersebut kurang akurat. Selain itu saya juga jadi tidak bisa follow blog yang berplatform wordpress. Jadi saya memilih feedreader.

Feedreader Saya

Memang bentuk apresiasi tersebut tidak "Wah" dan cenderung biasa saja. Tapi ini usaha saya menghargai pembaca yang berkomentar di blog ini. Semoga berkenan ya teman-teman blogger.

O iya... kalau misalnya setelah dicek, saya temukan blog yang mengalami broken link maka terpaksa saya hapus dari halaman blogwalking dan feedreader saya.

sumber gambar: dok. pribadi, ngmnexpo.com
[Continue reading...]

18 Februari 2016

Mengajak Siswa Menulis Jurnal Harian

- 6 comments

Kegemaran saya yaitu membaca dan menulis cukup mempengaruhi saya dalam aktivitas mengajar. Berkaitan dengan hobi tersebut, Saya jadi ingin menularkan suka membaca dan menulis kepada murid saya. Maka saya selalu mencari cara menularkannya kepada murid. Untuk menularkan minat membaca sudah diterapkan, yaitu membaca buku perpustakaan seminggu sekali.

Nah untuk menularkan minat menulis yang cukup sulit mencari caranya. Kenapa sulit ? Karena kegiatan menulis harus sesuai kemampuan murid saya yang baru kelas 2 SD. Maka, praktek tersebut harus sesederhana mungkin sehingga murid dapat memahami dan mampu melakukannya. Di satu sisi kegiatan menulis yang baru terpikirkan oleh saya yaitu menulis resensi, puisi, atau cerpen. Tentu terlalu berat untuk anak kelas 2 SD.

Saya juga berpikir kegiatan menulis itu menjadi rutinitas sehari-hari. Jadi saat diminta menulis, murid tidak mengeluh atau merasa terpaksa karena itu bagian dari rutinitas kegiatan belajar. Lewat kegiatan ini saya ingin melatih mereka untuk mencari gagasan dan mampu merangkai kata-kata sendiri hingga menjadi sebuah tulisan.

Akhirnya saya temukan idenya, yaitu menulis jurnal harian. Konsep awalnya adalah sekitar 15 menit sebelum pulang, para murid menulis apa saja yang ia alami dan rasakan selama pembelajaran. Di hari pertama penerapannya saya menjelaskan lebih rinci yaitu saya minta mereka menulis hal menyenangkan atau tidak menyenangkan, mengomentari bagaimana proses atau gaya mengajar saya.

Namun sepertinya itu masih terlalu sulit bagi mereka. Banyak yang tidak mengerti apa maksud saya. Setelah itu saya mikir lagi, hal apa yang lebih mudah para murid tuliskan. Akhirnya muncul ide. Di hari berikutnya saya minta mereka menulis materi apa saja yang mereka pelajari selama di kelas. Lumayanlah, mereka cukup mengerti. Walau begitu, sebenarnya masih dibawah ekspektasi. Mereka lupa materi yang dipelajari, dan saling bergiliran bertanya kepada saya.

Harapan lain, saya ingin mereka menulisnya dengan susunan kalimat yang padu dan mengalir. Seperti orang yang menulis diary. Tapi beberapa diantaranya menulisnya seperti menjawab pertanyaan isian.

Yaudah nggak papa deh. Yang penting mereka mau nulis dulu. Mungkin nanti kalau saya mengajar kelas tinggi (4-6) baru bisa menerapkan nulis jurnal harian sesuai ekspektasi saya.



[Continue reading...]

13 Februari 2016

Antara Saya dan Twitter yang Semakin Sepi

- 10 comments
Setelah saya riset di google, sudah ada beberapa blog yang membuat postingan yang bertema sama dengan postingan saya ini. Saya bukannya ikut-ikutan lho. Postingan ini saya buat memang karena berasal dari keresahan saya tentang twitter yang semakin sepi. Dan kebetuluan, ternyata keresahan itu juga dirasakan beberapa blogger lain dan mereka sudah memposting duluan.

Nah jadi kenapa saya malah resah ketika twitter sekarang ini sepi ? Karena saya TELAT PAHAM ASIKNYA MAIN TWITTER.  Jadi maksudnya gimana ?

Begini.... saya membuat akun twitter sebenernya udah sejak lama, tahun 2009. Iya saya membuat akun twitternya memang bisa dibilang tepat waktu, karena tahun segitu memang awal-awalnya twitter mulai booming. Iya kan ? Nah.... setelah bikin akun twitter, teman-teman saya langsung tancap gas main twitter. Mereka langsung saling RT-RTan. Kalau Saya ? Saya masih diemin itu twitter. Saya waktu itu nggak ngerti konsep twitter yang mesti pake RT-RTan. Saya bingung bedanya reply sama retweet. Saya bingung gimana cara baca alur percakapan yang pake RT-RTan itu.
Akhirnya saya cuma sesekali ngetweet status aja. Saya lupa berapa tahun saya diemin itu twitter.

Kenapa Twitter Jadi Sepi ?

Kalau menurut saya sih penyebab utamanya adalah munculnya sosmed/aplikasi chatting yang lebih personal seperti line, whatsapp, dan path. Bagi antar individu, konsep twitter hanyalah saling memberi pesan (tweet). Kalau untuk saling memberi pesan seperti itu ya jelas line & whatsapp lebih unggul karena lebih cepat. Dan teman-teman di WA/Line sudah pasti orang yang dikenal. Kalau twitter mungkin kita memfollow seseorang karena orang tersebut minta di folback. Rata-rata teman-teman saya tweet terakhirnya adalah tahun 2014. Padahal tahun segitu saya baru seru-serunya main twitter ckckck. Mereka tweetnya udah ribuan sampai puluh ribuan. Sedangkan saya ? Waktu itu buat nyampe seribu tweet aja lama banget ckck. Sekarang baru 2000an tweet. Kalaupun ada akun teman saya yang masih suka ngetweet, itu tweet otomatis dari facebook/instagram/path. Sama aja boong -_-.

Sekarang twitter masih saya gunakan untuk share postingan blog. Jadi isi notif twitter saya pun lebih banyak retweet2 dari akun sharing postingan blog. Tweet status juga masih suka saya posting. Selain itu kadang saya masih suka bales-balesan tweet sama satu-satunya teman yang masih aktif twitteran, @davithace.

Akhir-akhir ini saya banyak memfollow twitter para blogger buku. Mereka ternayata termasuk "kaum" yang masih cukup aktif di twitter. Dan tentu saja kaum blogger pada umumnya yang masih aktif ngetweet postingan blog.

Lalu apakah saya berharap orang-orang pake twitter lagi ? Nggak sih. Cuma malah jadi nyesel aja. Kenapa nggak dari dulu saya sadar asiknya main twitter.

Twitter tahun 2010
 
 sumber gambar: google.com


[Continue reading...]

Teori IPS: Kebudayaan Islam

- 0 comments
1. Penyebab agama Islam berkembang cepat
 - Diajarkan dengan cara damai
 - Upacaranya sangat sederhana
 - Tidak kenal kasta
 - Runtuhnya majapahit

 2. Cara penyebaran 
- Perdagangan: pedagang datang dari gujarat, arab, persia
 - Asimilasi: Perkawinan antara pedagang islam dengan putrid-putri syahbandar
- Pendidikan: mendirikan pondok pesantern
 - Permainan tradisional: wayang
- Dakwah

 3. Walisongo
 a. Penyebaran agama islam baru sebatas di wilayah pantai. Walisongo yang menyebarkan agama islam ke pedalaman.
b. Peranannya:
 - Menyebarkan agama islam
 - Penasehat raja-raja islam
 - Pendiri kerajaan Islam
 - Pengembang kebudayaan islam

c. Anggota Wali songo: 
- Sunan Kudus
 - Sunan Kali jaga
 - SunanGresik
- Sunan Giri
 - Sunan Gunung Jati
 - Sunan Bonang
 - Sunan Ampel
- Sunan Muria
 - Sunan Drajad

Walisongo
 sumber gambar: google.com
[Continue reading...]

05 Februari 2016

Bagaimana Cara Supaya Konsisten Ngeblog ?

- 14 comments
Tulisan semacam ini mungkin sudah banyak bertebaran di google. Walau begitu, belum tentu isinya sama. Jadi izinkan saya menulis topik ini menurut versi saya hehe. Jadi silahkan kalian mau setuju atau tidak (mudah-mudahan banyak yang setuju ya hehe).

Tulisan ini dibuat karena saya kadang bertanya-tanya sendiri kenapa saya masih mau ngeblog. Saya ngeblog sejak 2009. Jadi tahun ini adalah tahun ketujuh saya ngeblog. Padahal saya nggak pernah mendapat uang sepeser pun dari hasil ngeblog. Jadi sebenernya tulisan ini lebih kepada sharing pengalaman aja


1. Bikin target
Apa gunanya bikin target ? buat saya, target dibuat agar saya termotivasi untuk mencapai atau melampaui target tersebut. Selain itu saya juga menjadi termotivasi untuk mengulang pencapaian target itu. Dengan mencapai target maka akan mendapat kepuasan. Kepuasan itu yang akan menjawab pertanyaan "Apa yang didapat dari ngeblog?". Target ngeblog mungkin identik dengan target mendapat berapa banyak uang dari blog. Jika memang belum mahir, jangan membuat target yang diukur dengan uang. Jika tidak berhasil, justru malah bisa mematikan semangat ngeblog. Jadi bikin target yang simpel aja dan memungkinkan untuk dicapai. Itulah yang saya terapkan dalam ngeblog. Saya menargetkan minimal bikin 1 postingan setiap bulan. Tapi kalau bisa 1 minggu 1 kali.  Lalu saya menargetkan mendapat 50 pageviews untuk setiap postingan baru. Dan yang terbaru, saya menginginkan minimal mendapat satu komentar untuk setiap postingan baru.

2. Blogwalking 
Ada saat dimana saya buntu nggak punya ide postingan atau malah sedang malas bikin postingan (padahal ide postingan udah numpuk ckck). Nah untuk masalah itu, blogwalking bisa menjadi solusi. Blogwalking juga merupakan aktivitas ngeblog lho. Dengan mengunjungi blog lain, kita bisa saja mendapat ide karena terinspirasi dari postingan blog tersebut. Kalau bagi saya pribadi, blogwalking merupakan cara supaya target mendapat komentar tercapai. Jadi walaupun postingan nggak nambah (karena lagi malas), bisa jadi komentar yang nambah hehe.

3. Nulis Ya Nulis Saja,  Jangan Mikir Macam-Macam
Faktor ini yang cukup sering mengganggu semangat/konsistensi ngeblog saya. Saya suka khawatir dan berpamrih terhadap tulisan saya. Padahal seharusnya kalau ada ide, yaudah bikin aja postingannya. Nggak usah mikir isi tulisannya bagus atau nggak. Pembahasan lebih jauh tentang topik ini pernah saya posting silakan lihat disini.

4. Punya Teman Yang Juga Blogger 
Saya cuma punya satu teman yang juga blogger. Seru rasanya kalau saya lagi ngobrol sama dia tentang blog. Adanya teman bisa menambah semangat ngeblog. Kalau saja punya banyak teman yang blogger, pasti lebih seru. Ngeblog jadi semangat dan konsistensi ngeblog juga tetap terjaga. Kalau nggak punya teman yang juga suka ngeblog dikhawatirkan akan timbul pertanyaan "Ngapain saya ngeblog ? temen-temen saya yang lain nggak ngeblog kok." Supaya punya teman blogger, salah satu caranya adalah bergabung ke komunitas blogger.


sumber gambar: bairuindra.com


[Continue reading...]

03 Februari 2016

Bagaimana Rasanya Mengajar Anak SD ?

- 9 comments
"Bri.... gimana rasanya ngajar anak SD ?

Awalnya saya dan teman-teman saling tanya kabar hingga pekerjaan. Lalu kira-kira pertanyaan di atas yang muncul kalau saya menyebutkan profesi saya ke teman-teman. Mereka begitu penasaran. Ada daya tarik bagi mereka untuk bertanya lebih jauh. Memang, dikalangan teman saya, profesi guru SD sangat jarang yang melakoninya. Ya rata-rata kerja kantoran. Kalaupun ada yang jadi guru, ngajarnya tingkat SMP/SMA.

Mereka mungkin nggak bisa bayangin kalau saya jadi guru haha. Soalnya saya tipe orang pendiam, kalem (padahal mah jaim itu wkwk). Hal itu sangat kontras dibanding dengan guru yang harus terampil bicara, menyelesaikan permasalahan, dan menyenangkan bagi murid. Saya juga masih suka main, kumpul-kumpul sama temen. Jadi nggak kebayang gimana kalau saya jadi guru yang harus berwibawa di depan siswanya

Ditambah lagi saya ngajar kelas 2. Mereka berpendapat pasti pusing harus meladeni anak kelas 2 SD, karena susah di atur. Benarkah itu ?

Oke saya rangkum pertanyaan-pertanyaan itu. Saya akui.... sewaktu pertama kali terjun mengajar saya benar-benar pusing dan kewalahan dengan tingkah laku siswa. Waktu itu saya mengajar kelas 4 di salah satu SD swasta. Nilai-nilai seperti sopan-santun, menghargai sangat susah diterapkan murid saya. Kata-kata kasar dan kotor berulang kali terucap murid saya. Disatu sisi sebenernya hanya satu-dua murid yang jadi biang kerok. Tapi akibatnya murid lain jadi ketularan. Sudah tidak terhitung berapa kali saya marah-marah tapi sepertinya mereka anggap sebagai angin lalu. Saya bingung harus bertindak apa. Walaupun begitu, masih bagus relasi saya dengan teman guru berjalan baik cenderung akrab.

Setelah saya refleksi, saya sepertinya salah strategi. Diawal, saya mencoba bersikap menjadi guru yang menyenangkan dan tidak berjarak dengan murid. Saya suka bercanda dengan mereka, di dalam maupun di luar jam pelajaran. Tapi kedekatan itu sepertinya kebablasan. Mereka jadi kurang segan dengan saya.

Nah sekarang saya ngajar di SD negeri. Saya belajar dari pengalaman sehingga saya kurang-kurangi untuk bercanda dengan murid. Bisa dikatakan saya lebih enjoy ngajar di SD ini .Walaupun masih kelas 2, murid saya sekarang jauh lebih bisa diatur. Senakal-nakalnya mereka, masih bisa di maklumi dan tidak sering memancing emosi saya.  Makin kesini saya mulai bercanda dengan mereka, tapi tetap dengan porsi yang terbatas. Memang pada akhirnya bercanda dengan murid menjadi sesuatu yang menyenangkan sebagai guru SD. Kadang mereka bertingkah lucu sehingga saya tersenyum-senyum menahan tawa.  (guru tetap harus jaga wibawa hehe) 

Jadi kesimpulannya ngajar di SD negeri lebih enak daripada di swasta ? Bukan. Bukan itu poinnya.
Saya mendapat cerita dari teman guru yang juga mengajar di SD negeri lain bahwa murid-muridnya bandelnya parah. Mungkin seperti di SD swasta tempat mengajar saya sebelumnya. Nah jadi bukan status sekolah (negeri/swasta) yang menentukan.

 Jadi sebenarnya lebih ke untung-untungan sih. Di SD negeri ini saya kebetulan beruntung saja mendapat siswa yang lumayan enak untuk diajar dan relasi dengan guru lain juga baik. Kalau yang mau lebih pasti muridnya enak diajar bisa dikatakan kalau di sekolah elite, baik negeri maupun swasta. Tapi itu cuma asumsi saya saja sih. Mungkin belum tentu benar. Karena saya belum pernah ngajar di sekolah elite hehe.
[Continue reading...]

Komentar Terbaru

 
Copyright © . Brian Prasetyawan's Blog - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger